Awal Ramadan 1364, Cendawan Raksasa Lahir di Nagasaki

Tapak Sejarah Dalam Kalender Hijriyah  4

MALANGTIMES - Peristiwa besar di dunia serta mampu mengubah wajah sejarah sampai saat ini di bulan Ramadan, kerap menimbulkan pertanyaan. Sejak manusia memakai sistem kalender berbasis campuran antara bulan (qomariyah) dan matahari (syamsiyah). Sampai lahirnya kalender Hijriyah di Arab, berbagai peristiwa besar kerap terjadi di bulan Ramadan.

Tak terkecuali dalam peristiwa Perang Dunia II atau Perang Pasifik sebagai perang terhebat dalam sejarah manusia yang otomatis mempengaruhi jalannya sejarah dunia sampai hari ini. Pengaruh yang juga mengubah wajah bangsa Indonesia. 

Seperti diketahui, dari beberapa literatur, perang Pasifik terjadi karena ketidakpuasan Jepang akan hasil Perang Dunia I. Dimana tatanan dunia saat itu yang didominasi oleh negara-negara Barat, dimana sumber daya alam yang berlimpah ruah di Asia, berada di bawah kekuasaan Amerika Serikat, Inggris, Belanda, dan negeri Barat lainnya.

Jepang yang merasa ditakdirkan sebagai pemimpin Asia pun, menyatakan perang tanpa peringatan atau deklarasi. Jepang membom Pearl Harbor tanggal 7 Agustus 1941. Amerika Serikat sontak kaget dan merasa seperti ditusuk dari belakang karena pada saat bersamaan Jepang sedang mengusahakan diplomasi perdamaian.

Tidak hanya menyerang Amerika Serikat, pasukan Jepang pun merangsak  jajahan-jajahan negara Barat di Asia Tenggara, termasuk Hindia Belanda. Perang penaklukan dimulai. Perang Pasifik pun dimulai.

Perang pun terjadi antara Amerika Serikat dan Jepang. Tercatat, Mei 1942, Jepang dan Amerika bertempur di Laut Karang. Dimana pihak Jepang memenangkan pertempuran ini secara taktis, tapi membuat armada mereka membatalkan rencana untuk merebut ibu kota Papua Nugini. Juni 1942, terjadi kembali  pertempuran Midway di dekat Hawaii.

Dilanjutkan dengan pertempuran mati-matian di daerah Guadalcanal, dari Agustus 1942 sampai Febuari 1943. Berbagai pertempuran terus terang terjadi sampai tahun 1945, dimana Amerika dibantu pihak Inggris.
 

Pesawat pembom Nagasaki (Ist)


Jepang yang sudah kedodoran pun akhirnya membentuk pasukan kamikaze di Pertempuran Teluk Leyte. Pasukan bunuh diri Jepang inilah yang menurut Richard B. Frank dalam Downfall: The End of the Japanese Empire, yang membuat Amerika akhirnya memilih memakai bom atom.

Maka, tanggal 27 Syaban dalam kalender Hijriyah atau 6 Agustus 1945, pukul  08.16, bom atom “Little Boy” akhirnya dijatuhkan ke kota Hiroshima. Efeknya, kota Hiroshima luluh lantak dan sekitar 130 ribu rakyatnya tewas, terluka, dan hilang. 

Tidak berhenti di situ, tepat di saat kaum muslim menjalankan puasa hari pertama di bulan Ramadan 1364 atau tanggal 9 Agustus 1945. Bom atom yang dinamakan Fat Man dijatuhkan dari Enola Gay, pesawat B-29 Superfortress dengan nomor seri B-2945-MO milik Amerika Serikat, ke kota Nagasaki. Fat Man inilah yang akhirnya membuat Jepang menyerah, saat dua kota pentingnya luluh lantak dengan korban di Nagasaki yang lebih mengerikan dibandingkan Hiroshima.

Kehancuran Jepang tepat di hari pertama puasa bagi kaum muslimin serta menyerahkan Jepang dengan ditandatanganinya Japanese Intrument of Surrender di atas kapal USS Missouri. Tersebar luas sampai ke Indonesia yang saat itu masih diduduki Jepang melalui Radio BBC London pada 14 Agustus 1945, tepat pada hari keenam orang-orang Islam Indonesia menjalani puasa Ramadan. 

Di bulan Ramadan 1364 Hijriyah inilah, orang pertama yang mendengar siaran radio kekalahan Jepang yaitu Ahmad Aidit, atau dikenal sebagai Dipa Nusantara Aidit, bergerak. Ditemuinya Wikana yang saat itu bekerja di 

Asrama Indonesia Merdeka—yang disponsori Angkatan Laut Jepang (Kaigun) di Jakarta.  Aidit menyarankan agar Wikana mengadakan pertemuan dengan kawan-kawan mereka sesama pemuda progresif. Maka keesokan harinya dalam naungan Ramadan, sejumlah pemuda (antara lain Chaerul Saleh, Subadio Sastrotomo, Sukarni, dan Adam Malik) berkumpul di belakang areal laboratorium Bacteriologi & Higiene Genees Kundige Hooge School (kini menjadi gedung laboratorium mikrobiologi Universitas Indonesia).
 
Sebuah kesepakatan rapat akhirnya memutuskan Suroto Kunto, Subadio, Wikana, dan Aidit untuk menghampiri Sukarno dan mendesak agar  kemerdekaan Indonesia segera diumumkan. (Bersambung)...

Top