Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

Mencari Titik Koordinat

*dd nana

"Setan-setan dirantai kakinya. Disebuah tempat yang tak bisa kau temukan titik koordinatnya."

1/
Lelaki itu menghembuskan asap dari mulutnya. Cahaya memamahnya menjadi siluet-siluet unggu. Setelahnya hanya bunyi tenang api yang membakar ujung rokok.

"Sampai usiaku hampir memutih, tak kutemukan titik koordinat yang bisa memanduku. Menujumu,".

Matanya menengadah mencari tanda-tanda. Tapi, langit yang selalu tepat di atasnya, terlalu penuh bintang. Tak ada petanda.

Lelaki itu percaya, tanda akan selalu muncul pada sebuah sunyi. Satu warna yang mendominasi. 

Hitam pekat, misalnya. Tapi do'anya terlalu berwarna serupa kerlip bintang-bintang yang kini dipandanginya.

"Aku hanya ingin menemukanmu. Lantas berbincang-bincang dengan suara lirih. Mungkin, juga sebuah pelukan dan kecupan ringan di dahimu. Seperti dulu," ucapnya.

Ingatan. Ingatan yang membuat lelaki dengan asap yang selalu semburat dari mulutnya. Punya hasrat.

Sebuah geliat yang pernah ditikamnya berkali-kali, lantas dikuburnya di sebuah tempat yang titik koordinatnya dia simpan di dalam kepala.

Sayangnya, kepala ternyata bukan ruang aman dari rayap peristiwa. Hingga keroposlah kepala lelaki itu di tepi usia. Menyisakan remah-remah peristiwa kanak-kanak.

Lelaki itu hanya ingat, "para setan diikat kakinya di sebuah tempat. Agar mereka tak lagi hilir mudik memasuki raga manusia. Untuk sementara."

Sialnya ingatan itulah yang kini membawanya kembali. Mencari tanda-tanda atas koordinat yang pernah dia catat di kepalanya. Dengan sedikit bumbu romansa tentang rindu.

"Anak setan cocoknya dengan setan," jerit ingatan yang membuat kepala lelaki dengan asap semburat di mulutnya, berdenging.

"Kau tahu dimana titik koordinat itu, puan?"

2/
Sujudku tak sampai-sampai pada bayangan kaki-Mu

sedang sajadah ini telah berganti warna

dan kaki ini telah keropos untuk menahan beban rindu.

"Lepaskan dulu rantai itu tuan. Agar kau bisa beranjak menuju larik cahaya yang kau rindu itu," ucap sesuatu disepi malam dan tanpa permisi memasuki kedua matanya.

Langit di luar semakin gelap. Mata lelaki itu sempurna buta.

"Jangan tanya tentang hati."

3/
Adakah setan yang sampai ke hati
Begitulah lelaki itu bertanya-tanya sambil menghabiskan sebuah cerita dari sebuah kitab.

Konon, hati dicipta dengan rahasia. Dijaga dengan sesuatu yang tak pernah kau temukan dalam setiap buku yang dijejalkan dalam kepala.
Bahkan, biang setan pun sempat putus asa untuk menjajahnya.

Tapi, lelaki itu terus bertanya. Kerap tak hati-hati dan membuatnya disejajarkan dengan biang setan.

Karena, kata sesuatu, pertanyaan akan mengajakmu kepada ketidakpuasan atas segala yang telah dicatatkan sejak awal.

"Adakah setan yang sampai ke hati ?"

4/
Setan-setan dirantai kakinya. Disebuah tempat yang tak bisa kau temukan titik koordinatnya.
Sampai kau faham, menjadi manusia adalah menjadi yang tertakar.

Sesuai wadahnya masing-masing.

"Kumohon jangan kau pertanyaan kalimat ini, puan."

* hanya penikmat kopi lokal