Wali Kota Malang, Sutiaji (Foto: Arifina Cahyanti Firdausi)

Wali Kota Malang, Sutiaji (Foto: Arifina Cahyanti Firdausi)



MALANGTIMES - Belum lama ini Pemerintah Kota (Pemkot) Malang mengeluarkan imbauan dalam menyambut bulan Ramadan. Namun, surat edaran yang diposting di akun twitter @PemkotMalang itu cukup menggelitik dan mendapat beragam komentar dari netizen.

Bagaimana tidak, satu poin yang dicantumkan dalam pengumuman yang diterbitkan oleh Wali Kota Malang Sutiaji Nomor 4 Tahun 2019 tentang menyambut dan menghormati bulan suci Ramadan tahun 1440 Hijriyah, berisi agar warga non muslim untuk tidak makan, minum, serta merokok secara demonstratif.

Kalimat tersebut memunculkan kontroversi di kalangan netizen. Banyak yang menanggapi dengan berbagai hal negatif, mulai dari seolah Kota Malang semakin manja. Kemudian menyangkutpautkan dengan jalan berlubang di wilayah Kota Malang.

Terkait beragam reaksi yang dilontarkan netizen, Wali Kota Malang, Sutiaji menyatakan jika bahasa demonstratif itu digunakan sebagai kosa kata tanpa bermaksud menyinggung pihak manapun. 

"Kalau dijelaskan ini panjang, tapi memang bahasa surat edaran kan begitu. Kalau bahasa edaran itu diganti misalnya makan di warung mohon ditutup. Lalu yang merokok ini gimana, itu bisa jadi 2 halaman lebih nanti," ujarnya.

Apalagi, sebelum surat edaran tersebut diumumkan pihaknya telah mengadakan sosialisasi dengan stakeholder terkait. Diantaranya, tokoh agama baik muslim dan non muslim, FK UB, dewan masjid dan yang lainnya untuk membuat kondisi tetap nyaman di bulan suci Ramadan ini.

"Semua sudah kita kumpulkan untuk diskusi bagaimana terkait itu, semuanya nggak masalah. Lha justru di Malang ini sudah nggak pernah ada masalah antar kerukunan umat beragama. Justru dikhawatirkan orang - orang lain ini memiliki tujuan apa," imbuh dia.

Pria berkacamata ini menjelaskan, jika imbauannya tersebut tidak hanya berlaku bagi warga non muslim saja. Karena masyarakat muslim pun masih ada yang tidak menunaikan ibadah puasa.

Hanya saja, imbauan itu tetap harus diumumkan mengingat kegiatan seperti membuka warung tanpa ditutup dikhawatirkan akan memunculkan polemik bagi orang lain.

"Ketika itu tidak diimbau, misalnya warung tidak ditutup khawatir nanti ada polemik lain yang muncul. Mungkin FPI atau yang lainnya," katanya. 

Sebagai pimpinan nomor 1 di Kota Malang, ia menginginkan seluruh warganya hidup dengan saling menghormati dan mengayomi. "Negara itu hadir di tengah kehidupan, harus mengayomi semuanya. Yang beribadah di gereja ya kudu dilindungi, orang yang ibadah puasa juga harus dihormati," pungkas dia.

End of content

No more pages to load