MALANGTIMES - Peristiwa memilukan terjadi di hari pertama puasa pada bulan ramadan ini. 

Wiwit Mulyadi warga Dusun Kampung Anyar, Desa Tamansari, Kecamatan Ampelgading ini, ditemukan meregang nyawa sesaat setelah adzan subuh berkumandang, Senin (6/5/2019). 

Insiden memilukan tersebut baru diketahui sekitar pukul 04.30 WIB. 

Saat itu, Ikhsan warga Jalan Gunung Jati, Kelurahan/Kecamatan Dampit ini, berniat pergi ke Pasar Dampit dengan mengendarai jasa ojek pangkalan. 

Dengan berjalan kaki, saksi pergi ke pangkalan ojek yang berlokasi di Jalan Gunung Jati, Kelurahan/Kecamatan Dampit. 

Ketika diperjalanan, Ikhsan mengetahui korban dalam keadaan tengkurap dengan sisa muntahan disekitar tubuhnya. 

“Ketika berjalan menuju lokasi pangkalan ojek, saya melihat korban dalam kondisi tengkurap dan mendengkur,” kata Ikhsan saat dimintai keterangan polisi. 

Mengetahui ada yang tidak wajar, saksi bergegas mendekati tubuh korban yang sudah tak berdaya tersebut. 

Dari yang semula tengkurap, pria yang kini berusia 56 tahun itu berupaya membantu korban dengan cara menelentangkan tubuh korban.

“Sekitar 15 menit setelah ditelentangkan tubuhnya, korban akhirnya meninggal dunia,” sambung Ikhsan. 

Peristiwa ini akhirnya dilaporkan ke pihak kepolisian. 

Mendapat laporan, petugas gabungan dari Mapolsek Dampit, serta tim medis dari Puskesmas Dampit dikerahkan ke lokasi kejadian.

“Kasus ini masih dalam proses penyidikan, diduga kuat korban meninggal karena serangan stroke,” kata Kasubag Humas Polres Malang, AKP Ainun Djariyah. 

Dugaan tersebut dikuatkan dengan keterangan dari petugas medis, jika tidak ditemukan adanya bekas penganiayaan di tubuh korban. 

“Dari keterangan saksi dan keluarga, semasa hidupnya korban memang memiliki riwayat penyakit stroke,” sambung Ainun. 

Berdasarkan olah TKP (Tempat Kejadian Perkara) dan keterangan dari beberapa saksi yang dihimpun polisi. 

Semasa hidupnya, korban diketahui sering bersliweran di sekitar lokasi kejadian, untuk mengemis. 

Sekitar tiga hari sebelum ditemukan tewas, pria yang berusia 35 tahun tersebut. Sempat berpamitan dengan keluarganya, untuk berprgian. 

Semula pihak keluarga tidak menaruh curiga. Sebab semasa hidupnya Wiwit memang sering pergi keluar rumah sendirian. 

Atas insiden ini, pihak keluarga menolak untuk dilakukan visum. 

Hal tersebut tertuang dalam surat pernyataan, yang menyatakan jika kematian korban sebagai musibah. 

“Usai dievakuasi, jenasah korban langsung dibawa ke rumah duka untuk disemayamkan,” ujar Ainun.