Bicara Pengentasan Kemiskinan, Gubernur Jatim Apresiasi Cara yang Dilakukan Pemkab Malang

May 05, 2019 08:43
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa (baju batik putih), saat menyapa dan mengunjungi beberapa kios pedagang di objek wisata Boonpring, Kecamatan Turen (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa (baju batik putih), saat menyapa dan mengunjungi beberapa kios pedagang di objek wisata Boonpring, Kecamatan Turen (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Seolah gayung bersambut, Kabupaten Malang yang menjadi jujukan dalam perhelatan perdana agenda Jambore BUMDesa (Badan Udaha Milik Desa), sekaligus Launching Klinik BUMDesa Jatim 2019 mendapat apresiasi tinggi dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. 

Baca Juga : Pertama Kalinya di Malang Ada Studio Apartemen Luas Harga Termurah Hanya di Kalindra

Dalam kunjungannya terkait peresmian acara, mantan Menteri Sosial Republik Indonesia ini, berharap agenda Jambore BUMDes bisa mengurangi angka kemiskinan. 

“Saat ini angka kemiskinan di Jawa Timur berada di 10,85 persen. Sedangkan di Kabupaten Malang angkanya menunjukkan 10,3 persen,” kata perempuan yang akrab disapa Kofifah ini. 

Saat ditemui awak media, di sela-sela agenda Khofifah mengaku jika secara prosentatif, Kabupaten Malang jumlah kemiskinannya memang terbilang lebih sedikit jika dibandingkan dengan daerah lain di Jawa Timur. 

Namun jika ditelisik dari segi kuantitatif, maka Kabupaten Malang bisa dikategorikan jumlah kemiskinannya masih tinggi. 

“Kalau secara prosentatif, Kabupaten Sampang terbilang tinggi. Yakni dengan angka kemiskinan mencapai 23,4 persen,” sambung Khofifah.

Menurutnya, jika menilai tingkat kemiskinan seharusnya menggunakan penilaian kuantitatif.

Sebab luas wilayah dan jumlah penduduk di masing-masing Kabupaten dan Kota Madya di Jawa Timur sangat variatif. 

“Jika melihat secara kuantitatif, jumlah kemiskinan di Kabupaten Malang lebih banyak jika dibandingkan dengan Kabupaten Sampang. Di sini (Kabupaten Malang) jumlah masyarakat miskin ada sekitar 288 ribu penduduk,” tuturnya. 

Jumlah tersebut, tentunya terbilang tinggi jika dibandingkan dengan daerah lain yang ada di Jawa Timur. 

Meski demikian, Khofifah beranggapan jika Kabupaten Malang bisa mengatasi angka kemiskinan. 

Baca Juga : Tips Aman Ambil Uang di Mesin ATM Saat Pandemi Covid-19

“Saya rasa dengan kondisi pemerintahan dan potensi yang ada di Kabupaten Malang, jumlah angka kemiskinan akan segera bisa teratasi,” sambung Khofifah. 

Salah satu cara jitu yang diapresiasi  wanita yang identik mengenakan hijab ini adalah dengan adanya potensi BUMDesa. 

Seperti yang sudah diketahui, dari 378 Desa yang tersebar di 33 Kecamatan, saat ini Kabupaten Malang memiliki 206 BUMDesa dari berbagai usaha, serta 16 Desa Wisata aktif. 

“Sentra pertumbuhan ekonomi berbasis desa semacam ini, tentunya akan menjadi spirit (semangat) tersendiri bagi terciptanya masyarakat desa yang sejahtera,” terang Khofifah.

Dirinya mengambil contoh, dengan adanya geliat perputaran ekonomi yang dilakukan pedagang yang ada di wisata Boonpring. 

Sembari menunjuk beberapa kios warung, Khofifah mengatakan jika terus dioptimalkan maka potensi yang ada dapat semakin berkembang.

Bahkan bisa berkontribusi lebih terhadap pendapatan daerah Kabupaten Malang. 

“Coba lihat saja pemilik warung yang berjualan di sekeliling Boonpring ini, mereka (pedagang) tentunya akan terus bersemangat untuk berinovasi agar bisa mendapatkan tambahan penghasilan bagi keluarganya dari usaha yang digelutinya," pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
Pengentasan KemiskinanGubernur Jawa TimurKhofifah Indar ParawansaPemkab MalangJambore BUMDesaLaunching Klinik BUMDesa Jatim 2019

Berita Lainnya

Berita

Terbaru