Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa (tengah), yang didampingi Plt Bupati Malang Muhammad Sanusi (kiri), saat pemotongan pita peresmian Jambore BUMDes, Kecamatan Turen (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa (tengah), yang didampingi Plt Bupati Malang Muhammad Sanusi (kiri), saat pemotongan pita peresmian Jambore BUMDes, Kecamatan Turen (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)


Editor

A Yahya


MALANGTIMES - Tidak bisa dipungkiri, Kabupaten Malang memang memiliki segudang potensi. Mulai dari kekayaan alam, objek wisata, hingga kuliner, menjadi daya tarik wisatawan untuk mengunjungi daerah yang memiliki slogan The Heart Of East Java ini.

Salah satu potensi yang bisa dibanggakan adalah melalui gerakan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Dari sekian banyak potensi Yang ada saat ini, objek wisata Boonpring, yang berlokasi di Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, juga bisa dijadikan rujukan bagi daerah lain. Baik itu desa yang ada di Kabupaten Malang maupun yang ada di Jawa Timur.

“Alhamdulillah Jambore BUMDes pertama kali di Jawa Timur ini, bisa diselenggarakan di Desa Sanankerto. Potensi BUMDes disini (Boonpring) merupakan juara pertama di tingkat nasional. Saya berharap hal ini bisa dijadikan referensi bagi desa lain yang ada di Jawa Timur,” kata Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Prestasi ini tentunya tidak akan tercapai jika tidak ada sinergitas antar instansi. Baik itu instansi pemerintahan, pendidikan, maupun perusahaan. Dimana selama ini wujud kerja sama antar instansi tersebut, saling bahu-membahu dalam melakukan pendampingan terkait potensi BUMDesa yang ada di Kabupaten Malang.

“Kita bisa lihat di sini (Boonpring) potensinya sangat luar biasa. Mudah-mudahan temen-temen bisa menghitungnya. Katanya di sini ada 100 lebih spesies bambu,” ajak Khofifah saat ditemui malangtimes.com, sesaat setelah meresmikan acara secara simbolis melalui pemotongan pita, Sabtu (4/5/2019) siang.

Sebagai informasi, di objek wisata Boonpring memang memiliki sedikitnya 102 spesies bambu, yang tumbuh secara alami. Dengan potensi inilah, Khofifah mengimbau kepada para awak media agar turut serta memviralkan terkait potensi yang dimiliki Boonpring tersebut. “Saya rasa jika potensi ini dipublikasi dengan baik, maka yang datang tidak hanya wisatawan saja. Tapi para peneliti juga bakal tertarik untuk melakukan penelitian terkait potensi habitat bambu yang ada disini,” sambung Khofifah.

Pihaknya menambahkan, Jambore BUMDes yang diselenggarakan kali pertama ini, merupakan format guna meningkatkan sektor ekonomi dari sektor pedesaan. Tentunya denga potensi yang ada di masing-masing desa, diharapkan bisa menguatkan sentra pertumbuhan ekonomi baru, termasuk peningkatan dana desa. BUMDes Boonpring yang berlokasi di Desa Sanankerto ini misalnya. Selain menyandang juara pertama di tingkat nasional, destinasi wisata yang memiliki lebih dari 100 spesies bambu ini, juga mampu memberi sumbangsih lebih di sektor PAD (Pendapatan Asli Daerah). “Saat ini, BUMDes Boonpring bisa menyumbang pendapatan PAD mencapai Rp 460 juta,” terang Khofifah.

Khofifah menaruh harapan besar jika Boonpring nantinya bisa semakin berkembang seperti yang terjadi di Pujon Kidul. “Saya ingat betul, dua tahun lalu Pujon Kulon saya resmikan. Namun hingga sekarang sudah semakin berkembang dan bisa menghasilkan PAD hingga Rp 2,5 miliar,” pungkasnya.

End of content

No more pages to load