Sebanyak 27 Pelajar di Kabupaten Malang, Harus Berurusan dengan BNN Karena Gemar “Jajan” Ini

May 03, 2019 15:39
Ilustrasi narkoba jenis pil double L yang menjadi favorit di kalangan pelajar, saat disita petugas kepolisian, Kabupaten Malang (Foto: Dokumen MalangTIMES)
Ilustrasi narkoba jenis pil double L yang menjadi favorit di kalangan pelajar, saat disita petugas kepolisian, Kabupaten Malang (Foto: Dokumen MalangTIMES)

MALANGTIMES - Begini jadinya jika uang saku yang diberikan orang tua, justru dibelikan “jajanan” haram. Bukannya membeli camilan yang menyehatkan, puluhan pelajar yang ada di Kabupaten Malang ini, justru gemar mengkonsumsi narkoba.

Berdasarkan data yang dihimpun BNN (Badan Narkotika Nasional) Kabupaten Malang, hingga akhir bulan April lalu, sedikitnya ada 45 pemuda yang menjalani rehabilitasi. Dimana 10 diantaranya merupakan seorang perempuan. Sedangkan sisanya, 35 merupakan laki-laki.

 “Dari 45 orang yang menjalani rehabilitasi, sebanyak 27 peserta diantaranya masih berstatus pelajar dan berusia di bawah 19 tahun,” kata Kasi Rehabilitasi BNN Kabupaten Malang, Mohammad Choirul. 

Jika digali lebih jauh, penyebab puluhan pelajar harus menjalani rehabilitasi ini, karena terbukti kecanduan narkoba jenis pil koplo, atau yang lebih dikenal dengan istilah pil double L. “Mayoritas kalangan pelajar yang menjalani rehabilitasi, harus mendapatkan penanganan intensif karena kecanduan pil double L,” sambung Choirul, Jumat (3/5/2019). 

Kepada MalangTIMES, Choirul menuturkan jika harga yang relatif lebih murah dibandingkan dengan narkoba jenis lainnya. Membuat kalangan pelajar lebih mudah mendapatkan barang haram, berupa pil koplo tersebut. “Selain harga yang terjangkau, beberapa faktor lain seperti lingkungan, pergaulan, serta peran orang tua juga menjadi penyebab utama mengapa pelajar bisa kecanduan narkoba,” imbuhnya. 

Maraknya jumlah pelajar yang kecanduan pil koplo, juga terjadi di tahun 2018 silam. Saat itu, BNN menangani total 95 peserta rehabilitasi karena kecanduan narkoba. Dari jumlah tersebut, 37 orang berasal dari kalangan pekerja, kemudian 7 orang diantaranya berasal dari kalangan penganguran. Sedangkan sisanya, yakni 51 peserta berasal dari kalangan pelajar. 

“Sebanyak 51 peserta rehabilitasi yang masih berstatus usia pelajar ini, tahun lalu juga menjalani pemulihan, karena kecanduan narkoba jenis pil Double L,” terang Choirul. 

Sementara itu, Kasubag Humas Polres Malang AKP Ainun Djariyah juga membenarkan hal tersebut. Sebab, jika melihat catatan akhir tahun. Tersangka yang terlibat jaringan narkoba, rata-rata harus berurusan dengan polisi lantaran terlibat peredaran pil double L. 

“Tahun 2018 lalu, Satreskoba Polres Malang berhasil mengungkap 301 kasus narkoba. Kebanyakan dari tersangka yang diamankan lantaran terlibat jaringan peredaran pil doubel L,” kata Ainun. 

Dari 301 kasus yang terungkap, polisi juga mengamankan beberapa barang bukti dari tangan tersangka. Dari narkoba jenis pil koplo saja, korps berseragam coklat ini menyita sedikitnya 38.802 butir.

 “Jumlah ungkap kasus narkoba di setiap tahunnya memang mengalami peningkatan. Tahun 2017 hanya ada 237 kasus, sedangkan di tahun 2018 mengalami peningkatan sebanyak 64 kasus. Yakni sebanyak 301 perkara yang berhasil diungkap petugas,” pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
MalangBerita MalangKasus NarkobaPil double LBadan Narkotika NasionalPolres Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru