Pedagang dan pembeli mengeluhkan kenaikan harga bawang putih. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Pedagang dan pembeli mengeluhkan kenaikan harga bawang putih. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Kenaikan harga bawang putih yang relatif signifikan menuai keluhan warga. Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Malang pun belum dapat melakukan operasi pasar untuk menstabilkan harga. Namun, Disdag bakal mengajukan permohonan bantuan pasokan bawang putih sekitar 200 ton pada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim). 

Seperti diberitakan sebelumnya, harga bawang putih mencapai Rp 70 ribu per kilogram untuk jenis cutting. Sementara bawang putih jenis sinco dibanderol sekitar Rp 56-60 ribu per kilo di sejumlah pasar tradisional di Kota Malang. "Harga bawang putih memang melonjak drastis, mencapai Rp 58 ribu hingga Rp 60 ribu per kilogram," ujar Kepala Dinas Perdagangan Kota Malang Wahyu Setianto.

Mendapat laporan tersebut, lanjut Wahyu, pihaknya langsung turun ke lapangan. Yakni melakukan pengecekan ke pasar-pasar tradisional dan berkomunikasi dengan para pedagang bumbu dapur. "Barangnya (bawang putih) memang langka. Stoknya terbatas karena cuaca, banyak yang busuk," terangnya saat ditemui malangtimes.com di Balaikota Malang, hari ini (2/5/2019).

Menurut Wahyu, para pedagang di pasar juga mengeluh karena mahalnya harga bawang dari tengkulak membuat margin keuntungan menipis. Ditambah lagi, daya beli masyarakat juga menurun. "Pedagang bilang kalau mengambil barang dari pengepul juga sudah tinggi harganya. Mereka hanya ambil untung sekitar Rp 500 sampai Rp 1.000 saja," kata dia. 

Oleh karena itu, pihaknya akan mengirim surat ke provinsi untuk melakukan operasi pasar seperti yang dilakukan minggu lalu. "Sebab, tidak semua pedagang kebagian. Saat itu, kami hanya dapat jatah 50 ton. Banyak pedagang yang kecewa. Makanya, kami akan ajukan lagi, kemungkinan sekitar 200 ton," papar Wahyu. 

Lebih lanjut, Wahyu menjelaskan, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Kementrian Perdagangan terkait harga bawang putih, supaya masyarakat tidak mengeluh terus. "Saya kasihan dengan para pedagang makanan menengah ke bawah, yang pangsa pasarnya mahasiswa. Tentu kenaikan ini berpengaruh besar ke merak, maka kami masih upayakan," tegasnya. 

Menurut Wahyu, setiap hari besar keagamaan memang kebutuhan pokok selalu mengalami kenaikan. "Kami setiap tahun selalu berusaha untuk menekan kenaikan itu. Di antaranya melalui tim satgas untuk melihat langsung stok, apakah masih mencukupi atau benar-benar habis," kata dia.

Selain mengajukan operasi pasar, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan satgas pangan. Terutama untuk mengantisipasi supaya tidak terjadi penimbunan bahan pangan, utamanya untuk komoditi bawang putih. "Pengawasan juga dilakukan, jangan sampai ada oknum-oknum tak bertanggung jawab yang mencari untung dari momen seperti ini," tegasnya. 

Wahyu menilai, pasar murah dan operasi pasar cukup membantu menstabilkan harga kebutuhan pokok selama hari-hari besar. Kemungkinan besar, tahun ini pasar murah dan operasi pasar akan kembali dilaksanakan. "Pasar murah, biasanya dua minggu sebelum lebaran. Kalau operasi pasar, sementara ini yang akan kami lakukan untuk komoditi bawang putih. Sedangkan untuk komoditi lainnya belum, sebab harganya masih stabil," tandas dia. 

Harga bawang putih yang melonjak drastis, membuat masyarakat dan pedagang resah. Agus Salam, salah satu pedagang bumbu dapur di Pasar Besar Malang mengaku pihaknya menunggu adanya operasi pasar. "Minggu lalu di Pasar Induk Gadang sempat ada operasi pasar, tapi nggak sampai di sini (Pasar Besar). Kami berharap nanti kalau diadakan lagi kami juga kebagian," tuturnya.

End of content

No more pages to load