Ervin Rindayanto, kuasa hukum Nur Seto Budi Santoso (Foto : Ervin Rindayanto for MalangTIMES)
Ervin Rindayanto, kuasa hukum Nur Seto Budi Santoso (Foto : Ervin Rindayanto for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Guna mengusut tuntas kasus dugaan money politic yang terjadi di wilayah Kecamatan Turen Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) Kabupaten Malang, dikabarkan sudah memanggil beberapa saksi. 

Mulai dari calon penerima, tim sukses yang diduga menyebarkan amplop berisi uang, hingga kedua terlapor, juga tidak luput dari pemanggilan. 

Sebagai informasi, praktik money politic yang terjadi di dua Desa yang ada di Kecamatan Turen ini diduga melibatkan dua oknum Caleg (Calon Legislatif) dari kader Partai Demokrat. 

Melalui tim suksesnya, kedua terduga kedapatan ketangkap tangan membagikan “mahar” saat memasuki masa tenang, Selasa (16/4/2019) lalu.

Salah satu oknum dari dua orang terlapor yang dimaksud adalah Caleg DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Kabupaten Malang  yang bernama Tono ST. 

Pihaknya diketahui terdaftar sebagai Caleg Dapil (Daerah Pilihan) II yang meliputi wilayah Ampelgading, Tirtoyudo, Dampit, dan Turen.

Sedangkan satu orang terlapor lainnya, diketahui juga masih dari partai yang sama yakni Caleg DPR RI Nurseto Budi Santoso, yang terdaftar sebagai Dapil V yang meliputi wilayah Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu. 

Terkait dugaan pelanggaran yang menciderai pesta demokrasi ini, Bawaslu Kabupaten Malang melalui George da Silva, selaku Koordinator Divisi Penindakan Pelanggaran Bawaslu Kabupaten Malang. 

Sudah menghadirkan sedikitnya lima orang saksi. Dimana satu diantaranya adalah JW. 

Perempuan berinisial JW ini digadang-gadang menjadi pemeran utama yang membagikan “mahar” kepada calon pemilih, agar mencoblos dua kader dari Partai Demokrat tersebut. 

Seperti yang sudah diberitakan, Bawaslu Kabupaten mulai melakukan pemanggilan tersebut, terhitung mulai hari Senin (22/4/2019) lalu. 

Namun, beberapa orang saksi yakni selain kedua oknum caleg yang berstatus terlapor, dan saksi dengan inisial JW justru memilih mangkir dari panggilan. 

“Yang bersangkutan (JW) sudah kami panggil sebanyak 3 kali, namun selalu mangkir dari panggilan. Infonya dia (JW) berdalih jika mertuanya meninggal dunia, jadi tidak bisa memenuhi panggilan,” kata Koordinator Divisi Penindakan Pelanggaran Bawaslu Kabupaten Malang, George da Silva beberapa waktu lalu.

Terkait hal ini, membuat MalangTIMES.com mencoba untuk mencari kejelasan akan isu mangkirnya beberapa saksi tersebut. 

Ketika dikonfirmasi, Ervin Rindayanto selaku kuasa hukum Nurseto Budi Santoso membantah isu mangkir tersebut. 

Menurutnya, klien yang ditanganinya tidak pernah mangkir dari panggilan. 

“Pada 22 April lalu, kami pastikan belum ada panggilan dari Bawaslu,” kata Ervin saat dikonfirmasi wartawan. 

Menurutnya, surat panggilan resmi dari Bawaslu Kabupaten Malang, terkait kasus dugaan money politic yang menyeret nama kliennya tersebut, baru dikirim dan diterima pada Rabu (24/4/2019) malam. 

“Dalam surat panggilan tersebut, kami (pihak Nurseto) dipanggil untuk menghadap pada Kamis (25/4/2019) siang,” sambung Ervin kepada MalangTIMES.com. 

Ervin menambahkan, usai menerima surat panggilan. 

Dirinya beserta Nur Seto memenuhi surat panggilan sesuai dengan yang sudah diagendakan yakni Rabu (25/4/2019) siang, atau tepatnya sekitar pukul 13.00 WIB. 

“Kami datang kok, sebagai warga negara yang baik harus taat dan patuh dengan hukum. Beliau (Nur Seto) datang langsung dengan saya, selaku kuasa hukumnya,” pungkasnya.