Sisa Makanan Jangan Dibuang, Donasikan Melalui Website Karya Mahasiswa Bernama GARBARGAIN

May 01, 2019 19:25
Usung GARBARGAIN, Mahasiswa UB Raih Medali Emas di Malaysia. (Foto istimewa)
Usung GARBARGAIN, Mahasiswa UB Raih Medali Emas di Malaysia. (Foto istimewa)

MALANGTIMES - Jumlah sampah sisa makanan di Indonesia begitu mengkhawatirkan. 

Pada tahun 2016, Indonesia menempati peringkat kedua penghasil sampah makanan terbanyak di dunia setelah Saudi Arabia. 

Baca Juga : Gelar Aksi Kemanusiaan Tangani Covid-19, GMNI UM Berhasil Kumpulkan Donasi Rp 30 Juta

Data ini diambil dari Economist Intelligence Unit (EIU) di foodsustainability.eiu.com.

Dari sumber yang sama, setiap orang di Indonesia menghasilkan sampah makanan hingga 300 kg per tahun. 

Angka ini cukup memprihatinkan mengingat di sisi lain masih banyak warga Indonesia yang kesusahan mencari makanan setiap harinya.

Dilansir dari Brilio.net, Kepala Perwakilan Badan Pangan PBB (FAO) Mark Smulders pada tahun 2016 mengatakan, di Indonesia sampah makanan mencapai 13 juta ton setiap tahunnya. 

Sampah makanan ini kebanyakan dari ritel, katering, dan restoran.

Sebanyak 13 juta ton sampah makanan per tahun di Indonesia tersebut jika dikelola dengan baik bisa menghidupi lebih dari 28 juta orang. 

Seperti dikutip dari bps.go.id, angka ini hampir sama dengan jumlah penduduk miskin atau sekitar 11% dari populasi Indonesia menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2015.

Sebelum berakhir di tempat sampah, ternyata masih ada cara menyelamatkan makanan sisa sebelum jadi sampah. 

Lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) menangkap peluang itu dan mengeluarkan inovasi mengelola makanan sisa yang diberi nama GARBARGAIN: A Solution For Pra-Prosperous Communities By Exchanged Garbage To Get The Suitable Leftover Food.

Lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) tersebut adalah Aza Nur Alisa (FISIP 2018), Fara Fazira Noorani (FISIP 2018), Ahmad Dani Alfaza (Vokasi 2018), M. Alfan Mubarok (FILKOM 2018), dan Dziyaa' Annaufal (FILKOM 2018). 

Baru-baru ini, mereka meraih medali emas pada kompetisi International Student Affairs Invention, Innovation and Design Competition (I-SAIID) 2019 di Universitas Teknologi Mara Kedah Branch-Malaysia.

Baca Juga : Pimpin HIPAKAD, Afan Ari Kartika Berkomitmen Turut Bangun Kota Malang

Ketua Tim Aza Nur Alisa menyampaikan, GARBARGAIN merupakan suatu website yang dipergunakan sebagai platform mengelola makanan sisa, sekaligus penggalangan dana bagi mereka yang membutuhkan.

"Tingkat ketimpangan ekonomi di Indonesia sangat tinggi, di satu sisi banyak orang yang bisa makan berlebih, di sisi lainnya banyak yang kekurangan. Banyak juga ditemui sisa makanan pada acara-acara besar seperti hajatan pernikahan. Untuk itu dengan GARBARGAIN, kita bisa mengurangi sampah makanan sekaligus membantu masyarakat prasejahtera," papar Aza.

Saat masuk ke website GARBARGAIN, pengguna akan mendapatkan pilihan donasi berupa makanan atau uang. 

Untuk donasi makanan, pengguna akan diminta untuk mengisi keterangan tanggal dan jam makanan dimasak. 

Sedangkan untuk donasi uang, pengguna dapat meneransfer ke rekening yang tertera di website tersebut.

"Untuk mendeteksi kelayakan makanan, kami menggunakan kertas lakmus untuk melihat kadar keasaman. Jika masih layak akan dipanaskan kembali kemudian dilakukan pengemasan ulang untuk kemudian didonasikan. Namun jika makanan sisa sudah benar-benar tidak dapat dikonsumsi, maka akan diolah menjadi pupuk. Hasil penjualan pupuk juga akan didonasikan kepada masyarakat kurang mampu," jelas Fara Fazira Noorani.

Tim GARBARGAIN tidak menyangka karya mereka diapresiasi dengan medali emas pada kompetisi Internasional ini.

"Ini merupakan pengalaman pertama kami mengikuti kompetisi Internasional. Senang sekali bisa bertemu peserta dari berbagai negara seperti Thailand, China, dan India. Harapan kami semoga GARBARGAIN dapat diaplikasikan dan diterima di masyarakat," pungkas Ahmad Dani Alfaza.
 

Topik
sampah sisa makananGARBARGAINmahasiswa universitas brawijayaplatform mengelola makanan sisawebiste donasi

Berita Lainnya

Berita

Terbaru