Risiko Bencana Indonesia Tinggi, sampai April Sudah 483 Jiwa Jadi Korban

Apr 30, 2019 12:05
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo  (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo menyebut jika risiko bencana di Indonesia termasuk tertinggi di dunia. Sampai 29 April 2019, tercatat ada 483 jiwa yang menjadi korban dalam beberapa peristiwa bencana yang terjadi di berbagai daerah.

Baca Juga : Tiga Tenaga Kesehatan Positif Covid-19 di Kota Malang Sembuh

Doni juga menyampaikan, selama 29 tahun terakhir, Indonesia kehilangan 185 ribu jiwa akibat berbagai bencana yang dialami. Angka tersebut terbesar ke dua setelah HIV sebagai penyebab kematian terbesar. Sementara tahun lalu, ada sekitar 4.800 lebih korban jiwa yang meninggal dunia akibat bencana.

"Jumlah korban sangat besar, dan itu masih belum termasuk kerugian ekonomi," katanya pada wartawan usai menghadiri Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Jawa Timur Tahun 2019, Selasa (30/4/2019) di Lapangan Rampal.

Sehingga, dia menyampaikan jika pemahaman masyarakat tentang kebencanaan harus terus ditingkatkan. Selain itu, setiap daerah harus memiliki pemahaman yang berbeda sesuai dengan potensi bencana di daerahnya masing-masing.

Setiap daerah tentunya memiliki potensi yang berbeda. Di antaranya ada daerah yang berpotensi rawan banjir, longsor, gunung berapi, hingga bencana ang sifatnya tahunan. Sehingga antisipasi yang dilakukan bisa lebih tepat sasaran.

Saat ini, lanjutnya, salah satu mitigasi yang dilakukan adalah mitigasi terhadap tsunami. Dengan cara menanam pohon di sekitar pantai rawan tsunami. Karena dalam hasil penelitian, pohon dapat mencegah kemungkinan terjadinya tsunami dengan kekuatan besar sampai dengan 80 persen.

Baca Juga : Tanggap Covid-19, Fraksi PKS DPRD Kota Malang Bagikan Ratusan APD ke Petugas Medis

"Alat secanggih apa pun pasti tidak akan mampu mencegah alam. Sehingga kita harus bisa menjaga dan mencintai alam," paparnya lagi.

Bukan hanya itu. Dia juga menyampaikan jika korban terbanyak akibat bencana yang terjadi selama ini juga banyak terjadi pada kaum perempuan atau ibu-ibu. Sehingga, sejak dari dini pelatihan terhadap rumah tangga dan ibu harus dimulai. Sebab, perempuan juga memiliki sifat melindungi dan selalu terlihat aktif dalam berbagai komunitas. "Perempuan selalu peduli untuk menolong, tapi mereka juga belum memiliki kesiapan," imbuhnya.

Edukasi terhadap masyarakat, terutama pada perempuan di daerah rawan bencana sudah dilakukan sejak tahun ini. Dengan harapan, jumlah korban bencana mengalami penurunan. Selaim itu, pemerintah daerah juga diminta untuk berperan menanggulangi bencana melalui rencana pembangunan daerah.

"Selain itu peran serta akademisi dengan penelitiannya juga harus dimanfaatkan untuk mengatasi dan menanggulangi bencana," pungkasnya. 

Topik
Malang Berita Malang Badan Nasional Penanggulangan Bencana Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Lapangan Rampal

Berita Lainnya

Berita

Terbaru