Pameran karya mahasiswa UB di gedung Dewan Kesenian Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Pameran karya mahasiswa UB di gedung Dewan Kesenian Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Keprihatinan terhadap kondisi Kota Malang yang tak lagi dingin dan kerap macet tertuang dalam puluhan karya seni mahasiswa Program Studi Seni Rupa Murni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (UB) Malang. Mereka mengkritisi terkikisnya ruang terbuka hijau hingga infrastruktur yang kurang memadai di kota pendidikan ini. 

Keresahan atas kondisi Kota Malang inilah yang menginspirasi para mahasiswa itu. Mereka membuat karya seni berupa lukisan, grafis, dan patung yang mulai dari aliran naturalis, realis, kolase, dan abstrak. Sebanyak 42 karya seni mahasiswa angkatan 2017 ini berjejer rapi di galeri seni Dewan Kesenian Malang pada 27 April hingga 1 Mei 2019. 

Baca Juga : WORO & The Night Owls Gebrak Maret dengan Album Perdananya

Karya seni tersebut tampak menggambarkan wajah Kota Malang saat ini. Mulai dari kemacetan, kepadatan penduduk, lingkungan, hingga kebudayaan. Untuk itu, pameran tersebut diberi nama 'Wajah'. 

"Kami mencoba menyuarakan keresahan mahasiswa ketika berada di Kota Malang, budaya lokal yang semakin terkikis akibat perkembangan zaman, Malang semakin macet, kota ini sudah tidak dingin lagi," kata Africo Aprianto, panitia pameran. 

Pameran ini diharapkan dapat mengajak warga Kota Malang membuka mata tentang apa yang saat ini terjadi di tempat tinggal mereka. "Pesan dari kami, semoga Malang menjadi kota yang seperti dulu lagi, damai, kental dengan budaya lokal, serta menjadi kota yang dingin," ungkapnya.

Dalam pemeran ini, Africo sendiri menampilkan patung karyanya. Patung berbentuk seorang laki-laki berpakaian tradisional Jawa sedang duduk. Namun di bagian wajah, ia menggunakan topeng salah satu tokoh super hero luar negeri. Melalui kriya berjudul 'Gengsi' ini, ia ingin menggambarkan bahwa saat ini banyak pemuda yang lupa terhadap budaya lokal. 

"Sekarang banyak pemuda yang hampir lupa akan budaya lokal. Contohnya anak kecil yang justru lebih mengenal tokoh super hero luar  negeri daripada superhero lolak seperti Panji Asmoro Bangun," tutur Rico.

Baca Juga : Film Dokumenter The Beatles 'Get Back' Rilis September 2020

Salah seorang pengunjung pameran, Tefara Talia Riski menilai jika hasil karya mahasiswa dalam pameran kali ini bagus dan kreatif. Bahkan mahasiswi asal Jakarta ini mengaku terinspirasi dengan karya-karya tersebut. "Saya suka lukisannya, teknik melukisnya bagus dan rapi. Karyanya juga menggambarkan kondisi Malang saat ini," pungkasnya.