Suasana pelatihan penangkar benih kedelai nasional di Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Suasana pelatihan penangkar benih kedelai nasional di Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Masalah keterbatasan benih berkualitas masih menjadi kendala yang dialami petani-petani kedelai skala kecil di Indonesia. Penangkaran secara komunal, dinilai bisa menjadi solusi terutama untuk petani-petani di luar Jawa.

Sebanyak 30 petani dari berbagai penjuru Indonesia, hari ini (29/4/2019) mengikuti Pelatihan dan Penguatan Penangkar Benih Kedelai Nasional Berbasis Komunal di Hotel Swiss Belinn, Kota Malang. 

Dalam kegiatan yang digelar oleh Yayasan Syngenta dan bekerja sama dengan Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) Kementerian Pertanian RI itu, para peserta diajarkan untuk menangkar benih secara profesional. 

Yayasan Syngenta atau Syngenta Foundation for Sustainable Agriculture (SFSA) berharap keahlian penangkaran benih dapat meningkatkan pendapatan petani. "Jadi mereka dilatih mengembangkan benih sendiri yang berkualitas. Tujuannya agar kelompok yang berada di satu daerah itu tercukupi dan memangkas ongkos produksi tanpa meninggalkan sisi bisnisnya," ujar Country Director SFSA Indonesia, Teddy Tambu. 

Menurut Teddy, para peserta tersebut merupakan petani yang selama ini sudah aktif bertanam kedelai dalam skala kecil. "Tapi pertanyaannya mereka punya benih nggak. Kalau di Jawa mungkin relatif lebih mudah, tapi kalau di luar Jawa, kebutuhan benih berkualitas cukup sulit. Sehingga benih berkualitas bisa dikembangkan secara lokal," terangnya.

Dalam kegiatan itu, para peserta diajari mulai dari pemilihan varietas kedelai sesuai daerah tumbuhnya, budidaya, pemahaman dan pengenalan hama-penyakit, panen dan pasca panen. Termasuk aspek bisnis pengusaha benih dan tinjauan lapangan ke Balitkabi Malang untuk melihat langsung pusat pembibitan. "Secara teknis misalnya dilatih membedakan, mana yang bisa untuk benih, mana konsumsi. Juga soal sertifikasi," terangnya.

Target yang diharapkan, lanjut Teddy, peserta akan melakukan produksi benih kedelai setelah pelatihan. "Dari 30 peserta ini, target total bisa memproduksi 58 ton benih kedelai berkualitas dan bersertifikat siap tanam tahun ini," paparnya. 

Benih tersebut, akan dijual ke petani di daerah masing-masing. "Target kedelai konsumsi dari hasil petani berkisar 3.500 ton dengan target hasil produksi 2 ton per hektare. Diharapkan roda usaha ini akan mulai berjalan dengan target kualitas benih yang baik serta manajemen simpan yang tepat," pungkasnya. 

Untuk diketahui, 30 peserta yang terlibat terdiri dari penangkar kecil dan menengah dari 12 provinsi di Indonesia. Di antaranya dari Jawa Timur, Sumut, Jambi, Sumbar, Banten, Karawang, Subang, Majalengka, Bandung Jawa Barat, DIY, NTT, NTB, Sulteng, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan.

End of content

No more pages to load