MALANGTIMES - Polemik sumber air Wendit, Pakis, antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang, terasa serupa sinetron. 
Pasalnya, sejak tahun lalu polemik tersebut tidak pernah usai dan tak menghasilkan konsensus antara kedua pemerintahan daerah tersebut. Walau berbagai upaya diplomasi telah dilakukan serta difasilitasi oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim). Hasilnya tetap jalan buntu.

Kini, kembali Pemkab Malang melalui Wakil Bupati (Wabup) Malang Sanusi kembali menggebrak Pemkot Malang dengan gertakan. "Kami tidak lagi bisa kompromi. Kalau Pemkot Malang mau taat aturan, kami ikuti. Tapi kalau seperti ini ada aturan yang dilanggar, saya akan tindak tegas. Tidak ada lagi kompromi," tegas Sanusi mengulang pernyataannya terkait polemik sumber air Wendhit yang tidak ada ujungnya, Senin (29/04/2019).

Sanusi juga telah menyiapkan tim hukum yang akan bergerak dalam polemik tersebut. "Tim hukum masih terus melakukan kajian. Kalau hasilnya sudah keluar, kita segera tindaklanjuti," tegasnya.

Seperti diketahui, persoalan sumber air Wendit yang sampai saat ini dikelola oleh PDAM Kota Malang, dirasakan tidak sesuai. Bahkan, akibat dari pengelolaan sumber air itu, masyarakat sekitar pun melakukan somasi terhadap Pemkot Malang, Pemprov Jatim sampai pada Presiden Joko Widodo.

Tapi, hasilnya memang di luar ekspektasi banyak pihak di Kabupaten Malang. Pihak DPRD Kabupaten Malang pun sempat melontarkan untuk melakukan penghentian kerjasama pengelolaan sumber air. Atau menutup serta mengambil kembali sumber air Wendit yang lokasinya merupakan wilayah Kabupaten Malang.

Pembagian keuntungan dari pengelolaan sumber air Wendit, merupakan salah satu pemicu adanya polemik berkelanjutan dan berseri itu. Dimana, Pemkab Malang hanya mendapatkan pembagian sebesar Rp 133 per meter kubik. Pembagian keuntungan tersebut pun masih dibagi lagi.

"Rp 100 untuk Perum Jasa Tirta, sedangkan Rp 33 untuk kabupaten. Ini tentunya menjadi tidak tepat. Saya pernah sampaikan untuk pembagian ini seharusnya bisa saling menguntungkan satu sama lain," terang Sanusi.

Dirinya juga menegaskan, selain pembagian keuntungan yang tidak sepadan, persoalan paling penting adalah menjaga ekosistem sumber air yang terus dieksplorasi oleh PDAM Kota Malang. Dimana, eksplorasi tersebut ternyata telah membuat masyarakat sekitar sumber air melakukan somasi dikarenakan lingkungan hidup sekitarnya mengalami kerusakan.

"Jadi bukan sekedar profit oriented saja sebenarnya persoalan ini. Ada tujuan pelestarian sumber alam dan lingkungan hidup serta pelayanan kita kepada masyarakat," pungkas Sanusi.