Ritual pengambilan air suci yang diberikan oleh Plt Bupati Malang Sanusi kepada para wanita yang berperan sebagai tujuh bidadari dalam ritual Grebeg Tengger Tirto Aji. (foto istimewa)

Ritual pengambilan air suci yang diberikan oleh Plt Bupati Malang Sanusi kepada para wanita yang berperan sebagai tujuh bidadari dalam ritual Grebeg Tengger Tirto Aji. (foto istimewa)



MALANGTIMES - Upacara ritual Grebeg Tengger Tirto Aji akan masuk agenda tahunan Pemkab Malang. Wakil Bupati Malang HM. Sanusi sendiri yang meminta ajang budaya itu masuk kegiatan rutin Kabupaten Malang.

Menurut Sanusi,  kegiatan tersebut akan mendatangkan wisatawan sehingga bisa semakin mengembangkan pariwisata Kabupaten Malang. "Harapannya, dengan adanya Grebeg Tengger ini bisa menarik pariwisata karena ini merupakan kegiatan ritual yang dilaksanakan oleh masyarakat adat," ujar Sanusi kepada MalangTIMES  (28/4/2019).

 Grebeg Tengger sendiri merupakan sebuah acara upacara ritual adat yang sangat sakral. Upacara ini digelar masyarakat adat Suku Tengger yang berada di wilayah Kabupaten Malang. Dalam ritual tersebut, mereka mengambil air suci dari Sendang Widodaren yang merupakan sebutan mata air yang berada di area Taman Wisata Wendit, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Mata air tersebut juga disebut oleh masyarakat Tengger dengan sumber mata air Mbah Kabul dan Mbah Timbal.

Prosesi upacara tersebut diawali dengan pengarakan sebuah tumpeng, sebuah gunungan sayuran, dan sebuah gunungan buah-buahan yang merupakan hasil bumi dari masyarakat Suku Tengger. Kemudian dilanjutkan dengan ritual Tari Tujuh Bidadari sebelum kemudian dilanjutkan pengambilan air suci di sumber mata air tersebut.

 Grebeg Tengger  Tirto Aji juga merupakan salah satu bagian dari ritual Yadnya Kasada yang digelar di Gunung Bromo sebagai puncaknya. Ritual sakral Yadnya Kasada tersebut juga digelar oleh masyarakat Suku Tengger setiap tahun.

Sanusi menuturkan kegiatan ritual adat tersebut harus tetap dipertahankan dan dilestarikan. Apalagi,  wisata Wendit  nantinya dikelola pihak ketiga sebagai investor.

"Tetap nanti dengan investor kita masukkan bahwa kegiatan ritual yang sudah berjalan ini tetap bisa disambung lagi. Sehingga nanti meskipun ada investor nanti, kami  juga minta untuk melestarikan kegiatan adat ini," pungkasnya. 

End of content

No more pages to load