Screenshot akun Fadli Zon (@fadlizon)

Screenshot akun Fadli Zon (@fadlizon)



MALANGTIMES - Prof Mahfud MD kembali membuat geger para pendukung paslon capres dan cawapres 02. Itu setelah Mahfud mengunggah video terkait kemenangan paslon capres dan cawapres 01, berdurasi 1:20 menit.

Video Mahfud yang menyampaikan kemenangan Jokowi-Ma'ruf tidak akan bisa disalip Prabowo-Sandiaga serta suara paslon 02 itu hanya menang di provinsi garis keras dari sisi agama telah membuat Fadli Zon, anggota Dewan Pengarah BPN Prabowo-Sandiaga, terlihat berang dan menyampaikan komentar pedasnya kepada mantan ketua MK tersebut.

"Omongan @mohmahfudmd semakin bodoh tak bermutu dan sudah keluar jalur dan sangat ngawur," ucap Fadli Zon melalui akun Twitter @fadlizon, Minggu (28/04/2019).

Komentar pedas Fadli terhadap Mahfud  tersebut juga memercik kepada para pendukung paslon 02 di media sosial (medsos). Berbagai komentar sangat pedas mengepung Mahfud. Beberapa warganet lain pun semakin heran dengan berbagai statemennya.

@HopiMediana : "Saya nggak mengerti akhir-akhir ini sama prof MD...udah lah jangan sampe saya buruk sangka...semoga terbuka mata hatinya...itu sajah...doakan yang baik aja," komentarnya.

Namun, akun @hadikuntjoro meminta kepada Fadli Zon dan Mahfud MD untuk lebih bijak terkait berbagai persoalan. "@fadlizon dan @mohmahfudmd Istighfar. Anda berdua ini teladan bangsa... tak perlu mengajari ketakberadaban pada bangsa di sosmed! Bangsa tak punya adab," ujarnya.

Bukan hanya Fadli Zon  dari BPN Prabowo-Sandiaga yang mengomentari video Mahfud melalui medsos. Dahnil A. Simanjuntak pun mencuitkan tiga komentarnya atas hal itu.
"Saya menghormati Pak @mohmahfudmd tapi kaget dengan tuduhannya, karena ambisinya sampai tega menggunakan narasi daerah-daerah 02 menang seperti Aceh, Sumbar, Jawa Barat dan sebagainya. Sebagai daerah Islam garis keras. Narasi Pak Mahfud ini yang justru memecah belah dan penuh kebencian," tulis @Dahnilanzar.

Dirinya melanjutkan, "Orang yang bersikap seolah netral seperti pak @mohmahfudmd dengan narasi tuduhan yang mendukung Prabowo adalah daerah Islam garis keras, bukan justru menjadi suluh tapi menyulut keruh. Bukan sikap seorang pancasilais," lanjutnya yang ditutup dengan cuitan, "Apakah sikap Pancasilais itu adalah sikap menuduh dan melabel kelompok lain yang tidak satu garis politik sebagai Islam Garis keras seperti yang  dilakukan oleh Pak @mohmahfudmd ketika menyebut daerah dimana Prabowo menang adalah daerah Islam Garis keras?".

Pernyatan-pernyataan pedas dari BPN Prabowo-Sandiaga dan warganet pendukung paslon 02 tersebut juga diimbangi dengan yang mendukung Mahfud MD. Misalnya, akun hamidah_hidayat yang menuliskan, "Bersyukur prof. @mohmahfudmd kalau masih dinilai salah sama personil duo "F" ini mah itu tandanya anda masih menjaga kewarasan publik dan konsisten. Justru klo si "F" ini nilai anda benar kita malah berfikir jangan-jangan sudah ada yang bergeser dari nilai-nilai idealisme prof..." ungkapnya.

Lantas seperti apakah video Mahfud MD yang membuat Fadli Zon mengeluarkan pernyataan bodoh dan ngawur kepadanya? Dari video tersebut, Mahfud MD menyampaikan seperti ini:

 

 

"Kemarin itu sudah agak panas, dan pembelahannya sekarang kalau melihat sebaran kemenangan yah mengingatkan kita menjadi lebih sadar segera rekonsiliasi karena sekarang ini kemenangan Pak jokowi yah menang. Dan mungkin sulit dibalik kemenangannya," ucapnya.

Mahfud MD pun menyatakan Jokowi kalah di provinsi garis keras dari sisi agama. Provinsi-provinsi itu adalah Jawa Barat, Sumatera Barat, Aceh dan Sumatera Selatan. Di provinsi yang disebutkan Mahfud MD itu, Prabowo menang.

"Kalau dilihat kemenangannya di provinsi yang agak panas pak jokowi kalah. dan itu diidentifikasi kemenangan pak prabowo dulunya di anggap sebagai provinsi garis keras yah dalam hal agama, misalnya Jawa Barat, Sumbar, Aceh dan sebagainya, Sulsel juga. Sehingga rekonsiliasi ini penting untuk menyadarkan kita bahwa bangsa ini bersatu. Karena bangsa ini bersatu karena kesadaran akan keberagaman dan bangsa ini akan maju kalau bersatu," lanjut Mahfud MD.

 

End of content

No more pages to load