KITAB INGATAN 55

MALANGTIMES - Sambung Ayam

*dd nana

1) Palagan

"Kuwung-kuwung amayungi insun amatak ajiku pamepesan, amepes bebayuning anggane kang ingsun cekel iklingsun cakep pinijet epek-epek si raja keling larut bebayane tan suwe tarung si suwung galing gumuling tan jaluk banyon.” 

Anak api mulai semburat mencari mata lawan. Aromanya keringat para pejalan yang diaduk dengan kisah-kisah purba. Tentang para arwah yang meradang, tak bisa pulang. Terkatung-katung dan digantung. Serupa mata-mata yang akan berlaga. Saga.

Tiupkan lagi asap kemenyan lebih semburat. Biarkan panas darah ayammu melebur ciut ketakutan. Yang mengambang pekat di arena laga dan matanya.

Dua dan tiga kali lagi, semburkan. Hingga jagomu pantang pulang sebelum lawan terkapar.

Anak api telah menuju tepi. Bibir sang pawang telah selesai mengeja mantra. Sedang langit telah bersiap mencatat. Satu jiwa akan melayang dan cinta telah mengepakkan sayapnya, pergi menjauhi anyir laga.

"Ini waktumu. Kau dikaruniai taji, maka hujamkan serupa air hujan. Pantang kau pulang sebelum lawan terkapar,".

Lelaki berkalung sarung pun, melangkah lebar ke pekalangan. Diketiaknya sang jago menundukkan kepala, menatap tanah. Tajinya mengacung ke langit, siap untuk melunaskan takdir.

"Selamat datang kematian."

2) Memberi Makan

Bismillah Alif Ba'jim.

Tubuh yang perkasa mengenal matahari 

Menyerap rasa panas ke seluruh pori 

dan mengendapkannya pada setiap hela nafas.

Tepat setelah adzan dhuhur menggema, kau pun mengolah do'a-do'a. Enam puluh enam kali bibirnya bergetar. Lantas memercikkannya pada setiap yang akan masuk dalam lambung.

"Dengannya segala yang menjadi tenaga akan membuatmu terjaga. Awas atas mata kekalahan yang selalu ada di sela nafasmu yang memburu di palagan,".

Sesekali kau suapi paruh tajam jagoannya dan jemari yang ranggas di mamah matahari mengelus bulu warna merah berlarik hitam.

Sepekan kau memamah do'a. Di paruh, taji dan lambungmu mengendap kata-kata purba yang dicatat kitab-kitab. Saatnya kau tunaikan takdir.

"Segala yang telah menggelincir pada waktunya akan menjadi kisah. Catat kisah kemenanganmu,".

3) Tak Ada Kasih di Sini

Kami saling tatap. Tubuh-tubuh yang dipersiapkan sejak lama. Berbalut doa dan cinta dalam lambung. Tapi, percayalah di sini tak ada waktu untuk saling mengasihi.

Hanya sunyi yang membuat taji dan paruh kami meruncing. Siap untuk memuntahkan tuba pada raga yang sedang melunaskan takdirnya. Petarung di palagan yang tak pernah diinginkan.

Saat tubuh kami bergerak, doa-doa rontok bersama helai bulu dan darah.

Percayalah, tak ada kasih di sini. Doa-doa yang ditanamkan pada raga hanya menyisakan air mata. Pada akhir laga.

"Ini yang tersisa. Agar aku tidak lupa bahwa hidup ini bukan hanya untuk kemenangan saja,".

*hanya penikmat kopi lokal

 

Top