Siswa siswi SMKN 6 peneliti Utilizing Plastic Bottle Waste to Replace Brick yang berhasil meraih bronze medal di Malaysia. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

Siswa siswi SMKN 6 peneliti Utilizing Plastic Bottle Waste to Replace Brick yang berhasil meraih bronze medal di Malaysia. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Berita mengenai ikan paus yang tewas terdampar di pantai dan perutnya dipenuhi  sampah plastik membuat 4 siswa dari SMKN 6 Malang bertekad untuk mengurangi sampah plastik di dunia ini. Caranya dengan memanfaatkan plastik sebagai bahan bangunan.

Diceritakan oleh Leonardo Benito Maspaitella, siswa kelas X jurusan Desain Pemodelan Informasi Bangunan (DPIB) SMKN 6 yang juga salah satu dari 4 siswa tersebut, bidang bangunan yang dipilihnya terinspirasi  program Presiden Jokowi yang ingin meningkatkan infrastruktur pembangunan.

"Pertama kami dapat berita kalau ada berita paus mati tapi di dalam perutnya banyak sekali plastik. Kemudian di situ kita berpikir kalau ternyata plastik ini sudah banyak sekali dan sangat berbahaya bagi dunia. Di sisi lain program pemerintah Pak Jokowi itu juga ingin meningkatkan infrastruktur pembangunan," paparnya.

Leo selaku ketua kelompok menambahkan, sesuai dengan undang-undang, Indonesia juga bertekad mengurangi sampah sebanyak 70 persen. "Jadi, kami campurkan ide-ide tersebut. Kita ingin mengurangi 70 persen sampah plastik itu dengan mencari kresek dan botol plastik. Kemudian Pak Jokowi juga ingin meningkatkan infrastruktur," imbuhnya.

Leo bersama 3 rekannya yang lain, yakni Fadilla Nur Azizah (X Teknik Komputer Jaringan), Nisrina Daiva Adara Syahputri (X Sistem Informatika Jaringan dan Aplikasi), dan Renaldi Susilo (XI Desain Pemodelan Informasi Bangunan) kemudian membuat penelitian dengan konsep utilizing plastic bottle waste to replace brick atau botol plastik sebagai pengganti batu bata. Produk ini digunakan sebagai sekat ruangan.

Penelitian yang dibimbing oleh Wigonggo A.A MPd dan Sulaiman Sulang SS ini berhasil meraih bronze medal dalam International Festival of Innovation on Green Technology (IFINOG) 2019 yang digelar di Pahang University, Malaysia. Kompetisi yang digelar 19-21 April tersebut diikuti 287 tim dari berbagai negara, mulai dari Indonesia, Tiongkok, India, Malaysia, dan sebagainya.

"Awalnya kami ragu-ragu akan produk kita ini kuat atau tidak. Dari pihak panitia juga butuh data yang konkret untuk membuktikan bahwa produk ini kuat. Akhirnya kami uji laboratorium di Universitas Brawijaya dan ternyata kuat dan aman untuk pembatas antarruangan," terang Leo lebih lanjut.

Dikatakan Leo, produk hasil penelitian mereka berhasil menahan beban seberat 85 kg. Selisih 15 kg lebih rendah dari batu bata.

Penelitian ini sempat diragukan oleh juri. Hal ini lantaran bahan plastik yang mudah terbakar. Namun, Leo memastikan bahwa produk mereka aman karena bahan-bahan yang digunakan terdapat campuran lem dan air yang dapat digunakan sebagai isolator.

Bahan-bahan yang digunakan sendiri antara lain, kresek/plastic bag yang dicampur dengan lem rajawali dan sedikit air kemudian dipadatkan dalam botol plastik.

Ke depannya, tim SMKN 6 yang merupakan satu-satunya perwakilan dari Jawa Timur ini akan mengembangkan penelitian ini. Bahan dalam produk akan dicampur dengan limbah hasil gergaji kayu atau sekam padi.

"Sudah ada penelitiannya bahwa hasil gergaji kayu dibuat untuk campuran beton itu malah memperkuat beton," imbuh Wigonggo. Penyempurnaan dari penelitian ini nantinya akan digunakan untuk kompetisi di Korea Selatan bulan Juli.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMKN 6 Drs Sidik Priyono menghargai perjuangan anak didiknya. Dinyatakan olehnya, keberhasilan ini merupakan tak lepas dari kerja sama antara siswa, guru, serta orang tua yang erat.

"Kita patungan separo-separo dengan orang tua untuk mensupport anak-anak. Kalau masuk nominasi lagi Juli nanti berangkat ke Korea," pungkasnya.

End of content

No more pages to load