Perjuangan para petugas KPPS (Ist)

Perjuangan para petugas KPPS (Ist)



MALANGTIMES - Perhelatan pemilu paling rumit di dunia, telah selesai. Namun riaknya semakin membesar paska pencoblosan 17 April lalu, baik di dunia nyata dan dunia maya. Kabar hoaks pun menurut Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) paska pencoblosan, hanya butuh 3 hari (18-20 April) telah mencapai 64 kabar.

Tidak hanya itu, balada Pemilu 2019 serentak yang sangat panjang dan melelahkan para penyelenggara telah mengakibatkan kematian. Data KPU RI petugas KPPS meninggal sampai Senin (22/04/2019) malam, mencapai 90 petugas dan 374 sakit dikarenakan kelelahan luar biasa. Belum dari pihak kepolisian dan pengawas pemilu. 

"Sampai kemarin malam, petugas (KPPS) kita yang meninggal dunia mencapai 90 orang. Sedangkan yang sakit mencapai 374," kata Ilham Saputra Komisioner KPU RI dalam suatu acara.

Selain tentunya juga terjadi beberapa insiden lain di berbagai daerah dari ekses Pemilu 2019 yang sangat panas ini. 

Di dunia maya melalui platform medsos pun, masih banyak warganet yang melakukan berbagai tuduhan atas dugaan kecurangan para penyelenggara Pemilu 2019. Tak terkecuali menimpa para petugas KPPS yang mendapat serangan berbagai komentar miring.

Ini, misalnya terjadi pada Muhammad Iqbal Jafar yang memiliki akun Twitter @iqbaljapar. Iqbal adalah salah satu petugas KPPS di wilayah Jakarta yang merasa wajib menjelaskan beratnya tugas petugas pemilu di lapangan.

Saat warganet melakukan deligitimasi serta cemooh tak berdasar kepada perjuangan KPPS. Seperti yang dilakukan @HanifThamrin yang akhirnya menggembok akun Twitternya setelah warganet lainnya membela para pahlawan Pemilu 2019.

MalangTIMES merangkum cuitan @iqbaljapar atas pernyataan @HanifThamrin yang tidak bisa lagi dibaca karena akunnya digembok. Iqbal terlihat marah atas cuitan tersebut dan membuat testimoni panjang kepada @HanifThamrin.

"dear mas @HanifThamrin bersedia meluangkan waktunya buat baca pengalaman saya menjadi petugas KPPS kemarin? FYI saya adalah seorang pekerja kantoran (yg mana saya bs menolak menjadi petugas KPPS kalo menurut mas emg masalahnya cuma UANG) dan saya berdomisili di Jakarta. kenapa saya menekankan domisili Jkt? karena perjuangan saya (dan petugas KPPS lain di Jkt) tidak lebih berat daripada perjuangan mereka (para petugas di pulau terpencil dan terluar, red)  untuk menjadi pengetahuan masnya," cuit  @iqbaljapar memulai testimoni saat serangan @HanifThamrin dianggap telah mencederai perjuangan para petugas KPPS.

@iqbaljapar melanjutkan dengan menerangkan bagaimana tingkatan petugas yang ada di lapangan serta beban amanah yang begitu besarnya dalam Pemilu 2019. "Setelah Putusan MK, Jumlah TPS Pemilu 2019 Bertambah 829 Jadi 810.329. saya sendiri baru ditunjuk sebagai petugas KPPS H-14 dari pemungutan suara saat itu, kakak saya harus mengundurkan diri karena alasan pekerjaan. Ketua KPPS di lingkungan saya sudah kewalahan mencari penggantinya dan saya merasa bertanggung jawab thdp lingkungan saya sendiri," ujarnya.

Kondisi itulah yang membuat Iqbal menerima tanggungjawab sebagai petugas KPPS. "Dengan SADAR dan tanpa paksaan. Memang saya bisa menolak tp berdasar alasan td saya menolak untuk menolak. sampe H-7 pelaksanaan kami petugas TPS belum juga menerima bimtek/sosialisasi, kami hanya diberikan satu buah buku panduan yg berisi juklak pemungutan suara. Pada akhirnya petugas PPK Kecamatan bisa memberikan kami sosialisasi di H-3. setelahnya, kami diminta untuk berkumpul di GOR Kecamatan untuk cek logistik yang kami terima," ungkapnya. 

Perjuangan dimulai oleh Iqbal bersama rekan KPPS lainnya di H-1. Dari mencari tukang sewa tenda yang hasilnya mereka tidak kebagian sewa tenda itu. Dikarenakan kebutuhan meningkat di waktu yang singkat. 

"Ketua kami memutuskan untuk membeli terpal pengganti tenda," tulisnya.

Tidak berhenti di situ, Iqbal pun hampir mengundurkan diri karena sakit. Tapi tanggungjawabnya sebagai bagian dari masyarakat, saat yang lainnya tidak ada yang berani mengambilnya, membuat dirinya tetap melaksanakan tugas sebagai KPPS. "Saat pelaksanaan saya harus mengkonsumsi 4 obat mas. sampai akhirnya pemungutan suara selesai jam 13.00 WIB. Kami mulai penghitungan suara dari tingkat PPWP (Presiden dan Wakil Presiden) hingga DPD. mungkin PPWP lipatannya masih sedikit, tapi DPR dan DPRD provinsi tiap lembarnya bs sampai 5-6 kali lipatan," cerita Iqbal.

"Penghitungan di TPS kami selesai jam 22.30 WIB.  Tapi mas kira cukup sampai situ? tidak mas, kami harus menyiapkan berkas adminstrasi formulir dikali 4 hasil pemungutan dikali jumlah saksi dan dikali pelaporan sampai tingkat kecamatan," ujarnya yang menuliskan baru pukul 03.00 WIB proses administrasi TPS selesai itupun ditambah satu hari untuk penyelesaiannya.

"Dengan tenaga tersisa dan sistem istirahat bergantian di TPS. Saya adalah petugas paling muda di TPS. Ada petugas yang umurnya 60 tahun. Bisa dibayangkan mas?" cuitnya lagi.

"Cukup sampai disitu? belum mas. Setelah selesai dengan urusam administrasi kami harus menyetorkan data tersebut bersama kotak suara yg kami jaga dengan penuh tanggung jawab dikawal oleh pihak kepolisian ke GOR Kecamatan. kebayang ga mas berapa TPS se- Kecamatan yg setor data? Banyak sekali," ungkapnya menceritakan pengalamannya sebagai KPPS. 

"Kami bekerja secara ikhlas dan berusaha tanggung jawab untuk negara ini mas, kebayang ga gimana kalau salah hitung atau C1 tidak sesuai dengan plano. kami harus bongkar dan hitung ulang. Kami ga minta dihargai setinggi2nya mas. Tapi kami mohon JANGAN REMEHKAN KERJA KAMI!" tegasnya menyikapi cuitan  @HanifThamrin yang bernada merendahkan petugas KPPS.

Iqbal pun mencurahkan isi hatinya terkait tanggungjawab yang diterimanya serta bukan dikarenakan karena honor petugas KPPS yang nilainya tentu tidaklah besar. 

"Kami sebagai petugas TPS harus menahan dingin, kantuk dan lelah. Mungkin masyarakat yg tidak menjadi petugas sudah tidur nyenyak dan terbangun dengan perasaan tidak terbebani tanggung jawab apapun. sampai saat ini kamipun masih harus tanggung jawab mengawal form C1 yg kami serahkan sampai hasil real count dikeluarkan KPU atau minimal sampai data TPS kami sudah di upload di web KPU sesuai dengan hasil pemungutan," ujarnya lagi.

Testimoni Iqbal tersebut adalah bagian terkecil dari curhatan petugas KPPS di berbagai daerah. Di tengah rasa lelah bekerja, stress dengan tekanan banyak pihak, sehingga mengakibatkan bertumbangannya para petugas KPPS. Perjuangan mereka pun mendapat apresiasi positif juga dari warganet. Sampai muncul tagar #IndonesianElectionHeroes.

"Dengan adanya tagar tersebut  kami akhirnya merasa perjuangan kami cukup dihargai oleh masyarakat luas. Kami berterimakasih, tapi kami sebenarnya tidak mengharapkan sampai sebegitunya, karena ini sebenarnya memang tanggung jawab kami," pungkas Iqbal.

End of content

No more pages to load