Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

Merajah Ingatan
*dd Nana

- Mari bersulang dulu, tandaskan getirmu sebelum kisah mengajakmu kembali bertualang-
Segala yang tumpah akan meresap. Pada setiap celah dan pori-pori waktu. Lesap. 

Sebelum kita sadar sesuatu telah menjadi yang tak kita sadari. Yang tak pernah kita mengerti.

Serupa getas kisahmu yang dibawa kemana-mana. Serta kau tumpahkan tetes demi tetes di setiap perjumpaan ini.

Tapi, kita sering alpa terhadap segala yang meresap diam-diam, menggelincir lekas pada setiap sepi dan menghuni ruang-ruang yang kita benci.

Segala yang jatuh dalam perjumpaan, tak pernah kita catat. Walau nodanya terperangkap di kemeja putih kita. Atau pada meja-meja yang sekejap dipenuhi latu api rokok serta sumpah serapah. 

Sesekali ada tawa yang mengoyak nyeri, kisah-kisah ganjil yang tak patut untuk kita catat.

Mungkin serupa segala yang jatuh yang tak pernah kita temui lagi. 

Dan entah menjelma apa. Serupa rindu yang tersesat dan tak lagi bisa mengetuk pintu rumah yang dicintainya. 

Bertualang sampai jatuh sampai tepi sampai tak ada yang yang menyadari. 

Cinta yang mati kerap tidak membutuhkan nisan, bukan?

Maka, bersulanglah dulu sebelum kau kembali menjelajahi kisah. 

Jangan ragu ada yang tertumpah jatuh di sini. Karena setiap yang akan lesap, telah aku catat.

"Di sini, lihat dan bacalah..." ucapnya sambil mendekatkan kepalanya.

Ada yang pecah malam itu. Entah harus ditulis apa.

Air mata ?

-Bunyi dentang 12 kali dari tiang listrik, malam ditusuk sepi-

Tapi ngilunya di aku. Nyerinya memukul mundur rindu. Padahal waktu tak bisa dibuat mundur. Hanya cinta yang mungkin mampu melantakkannya. Itu pun dengan berdarah-darah. Di aku.

Bebalnya, setiap luka aku simpan pada ingatan. Dengan merajahnya inci demi inci sampai mata dikelupas warna saga. Sampai akhirnya tercipta sebuah rupa. 

Azan Subuh menggugah setiap yang berselimut. Rajahku sempurna sudah.

Sebelum akhirnya aku gosok inci demi inci lagi. Agar ingatan kembali sedikit jernih untuk menatap matahari yang dilahirkan lagi.

Tapi cinta memang makhluk yang menyebalkan. Setiap malam dia meradang bersama dentang listrik yang menunggui sepi. Dengan 12 ketukan.

-Pelukan yang meregang dan menghilang, bukan sebuah akhir-

Ucap lelaki yang lalulalang di beranda yang pikuk dengan aksara. Di tangannya tak lagi dia bawa buku puisi cinta. 

Di kepalanya hanya ada rindu, rindu, rindu. Atas ingatan hangat serupa rahim. Yang pernah memeluknya saat raga hanyalah sekedar daging tak utuh.

Lelaki itu lelah mencari para kekasih yang pernah menjadi nafasnya, dulu. Matanya hanya bisa menemui kepala-kepala yang terbakar. 

Kemana-mana membawa kobaran api. Lelaki itu jadi ingat atas sebuah film tentang lelaki yang mengikat janji dengan setan. 

Lantas di sebuah kisah yang terus didaraskan, lelaki itu menantang setan dengan api yang berkobar di kepalanya.

Rindu yang telah membuat lelaki berkepala api jatuh pada sisi terlemahnya. Menjadi manusia menjadi daging yang rindu pada rahim.

Muasalnya ada dan mengada.

"Sungguh aku rindu pada kalian. Yang mengucurkan puisi-puisi cinta dari jemari kalian di sini. Rindu atas pelukan hangat kalian yang menenangkan," ucap lelaki itu.

Matanya masih mencari sampai putus asa. Mereka menghilang tapi lelaki itu yakin itu bukan sebuah perpisahan. Iya kan, tuan dan puan?

*Sekedar penikmat kopi lokal