Illustrasi

Illustrasi


Editor

Heryanto


MALANGTIMES - Tahun 2018 tercatat angka penderita HIV/AIDS di Kota Batu meningkat. Yakni mencapai 42 kasus satu orang meninggal dunia.

Tidak hanya tahun 2018 saja, terhitung mulai tahu 2016 jumlah penderita terdapat 16 kasus. 

Lalu tahun 2017 ada 18 kasus, dan tahun 2018 ada 42 kasus.

Untu menurunkan angka penderita penyakit mematikan ini pada tahun ini Pemkot Batu menggelontorkan Rp 693 juta pada tahun 2019. 

Nantinya anggaran itu digunakan dalam bentuk kegiatan. Mulai sosialisasi hingga pendampingan terhadap penderita.

“Itu nantinya yang menggelar rumah sakit, LSM, Pemkot Batu, puskesmas, dan sebagainya. Meskipun tidak ada pengawasan khusus bagi penderita karena hanya akan membuat mereka tertekan,” kata Wakil Wali Kota Batu, Punjul Santoso.

Pemkot akan memberikan pendampingan, jika memungkinkan memberikan kesempatan untuk bekerja.

Menurutnya meskipun angka penderita meningkat, tetapi pertambahan jumlah penderita ini merupakan sesuatu yang baik. 

“Melihat sejauh ini penderita itu menutup diri. Ketika pemerintah bisa mendeteksi penderita ini kita bisa berbuat,” imbuhnya.

Sementara itu Kepala Bidang pengendalian dan pemberantasan penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Batu dr Yuni Astuti menambahkan, selain itu Pemkot Batu juga melakukan kerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kota Batu. 

Adanya kerjasama ini bertujuan mendekatkan diri kepada penderita. Ini salah satu cara agar bisa melakukan penanganan lanjutan kepada penderita. 

“Orang kalau sudah terkena HIV ini cenderung menutup diri, jadi ketika jumlah penderita meningkat itu hal baik. Jadi bisa mendeteksi secara pasti jumlah penderitanya berapa,” ungkap Yuni. 

Selain itu Pemkot Batu juga melakukan penyuluhan di sekolah-sekolah SMP dan SMA juga tempat-tempat berkumpulnya pelaku seks. 

Panti asuhan dan hotel pun juga menjadi sasaran adanya sosialisasi. 

Menurutnya pemeriksaan penderitaan ini hanya bisa dilayani di rumah sakit milik provinsi. 

Karena itu ke depan setidaknya setiap puskesmas bisa melayani pemberian Antiretroviral (ARV) untuk penderita. ARV ini adalah sejenis obat khusus yang diberikan kepada penderita.

“Kalau sekadar konseling, rehabilitasi, pemeriksaan bisa dilakukan di puskesmas. Sehingga ke depan satu puskesmas dapat melayani total penderita,” tutupnya.

End of content

No more pages to load