MALANGTIMES - Pesta demokrasi yang digelar serentak pada 17 April lalu, membuat tim penyelenggara mulai dari KPU (Komisi Pemilihan Umum) hingga Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) Kabupaten Malang kalang kabut. Selain itu anggota pengamanan yang dilibatkan mulai dari kepolisian, TNI, Satlinmas, dan Petugas Pemadam Kebakaran, juga turut difokuskan untuk meminimalisir potensi kericuhan dan musibah saat pemilu berlangsung.

Namun diluar dugaan, disaat bersamaan petaka terjadi. Bukan karena kegaduhan pesta demokrasi, namun karena adanya insiden kebakaran di Pasar Lawang, Rabu (17/4/2019).

Seperti yang sudah diberitakan, pada malam itu Pasar yang berlokasi di Jalan Thamrin, Kelurahan/Kecamatan Lawang ini. Seolah menjadi ajang bagi si jago merah, untuk meluapkan amarah. Bagaimana tidak, dikabarkan ada sedikitnya 559 dari 1.300 kios, bedak, dan lapak (los). Menjadi “tumbal” amukan kobaran api. Total ada 13 mobil pemadam, dua mobil rescue, dan satu unit mobil ambulan yang diterjunkan ke lokasi kejadian guna memadamkan kebakaran.

Rinciannya, 4 mobil pemadam kebakaran dari Kabupaten Malang, 4 unit mobil pemadam kebakaran plus satu mobil rescue dari Kota Malang, satu armada pemadam kebakaran masing-masing dari Bentoel dan Sampoerna, dua unit mobil pemadam kebakaran dan satu unit mobil rescue dari Kota Batu, satu unit mobil pemadam kebakaran dari Pasuruan, serta satu tangki air dan satu mobil ambulan dari BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Malang.

“Sedikitnya ada 85 personel gabungan pemadam kebakaran yang dikerahkan. Api mulai padam sekitar 04.30 subuh, namun proses pembasahan masih terus berlanjut hingga kamis sekitar pukul 17.30 menjelang magrib,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran (PPBK) Kabupaten Malang, Goly Karyanto, Jumat (19/4/2019)

Praktis, petugas gabungan membutuhkan waktu sekitar 21 jam, hingga akhirnya api benar-benar dipastikan padam. Susahnya medan dan lokasi titik kebakaran, membuat petugas kesulitan untuk menjinakkan api. Belum lagi dampak kebakaran yang menjalar mulai dari lantai dasar hingga lantai dua, membuat satu armada pemadam kebakaran harus bolak-balik mengisi amunisi tangki air.

Situasi haru para pedagang pasar, bercampur aduk dengan kegundahan para petugas pemadam kebakaran. Sebab, selain harus mengawal berjalannya proses pemilu. Petugas juga difokuskan untuk melakukan pemadaman kebakaran. Wajar saja, jika para petugas yang berjuang memadamkan api sampai kelelahan.

Salah satunya seperti yang dialami salah satu petugas yang bernama Bambang Siswoyo. Pria yang kesehariannya berdinas sebagai pegawai honorer di PPBK Kabupaten Malang ini, sampai harus “terkapar” di pinggir trotoar jalan.

Dengan kedua kaki menggantung dan posisi lutut tertekuk ke bawah. Bambang berupaya melepas lelah dengan memenuhi kebutuhan tubuh untuk tidur. Maklum saja, saat insiden terjadi. Dia merupakan salah satu petugas yang terjun ke lapangan pertama kali. Alhasil, bok (pembatas jembatan) dan selimut kain ala kadarnya menjadi tempat tidur ternyaman baginya saat itu. dengan tangan sedekap, serta masih lengkap mengenakan seragam kebesaran petugas pemadam kebakaran, Bambang terlihat pulas tertidur. Suara bising kendaraan yang berlalu-lalang, seolah tak mampu mengusik rasa lelah yang dialaminya.

Iya, mulai dari menjadi driver mobil pemadam kebakaran. Hingga harus bolak-balik mengambil air untuk mengisi tangki. Perjuangan Bambang juga masih ditambah dengan harus menjadi operator mesin. Jika temannya lelah, pria bertubuh tambun ini juga nampak menggantikan temannya di bagian posisi memegang nozzle (corong selang air). “Kami berdua dan sebagian personel lainnya, baru balik kanan (pulang) saat dhuhur (Kamis siang),” kata Kepala Seksi Penanggulangan Bahaya Kebakaran (PPBK) Kabupaten Malang, Agus Suyanto.

Perlu diketahu, Agus juga mengalami perjuangan yang dirasakan oleh Bambang. Bahkan, sesaat sebelum kebakaran terjadi. Pihaknya harus menjaga pengamanan pemilu di wilayah Kecamatan Gondanglegi. “Sekitar satu jam setelah kejadian, saya nekat mengendarai sepeda motor untuk berangkat ke Pasar Lawang,” terang Agus.

Saking tergesa-gesanya lantaran mengetahui api semakin membesar. Dirinya nyaris saja mengalami kecelakaan, saat melintas di area jalan yang berada di kawasan Jalan Raya Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis. “Untungnya hanya oleng dan masih selamat,” tuturnya kepada MalangTIMES.com.

Sama halnya yang dialami Bambang, pria yang akrab disapa Ambon ini juga menyempatkan tidur saat api sudah mulai padam. “Ketika proses pemadaman saya sempat tidur sambil bersandar di mobil pemadam. Untunglah semua personel gabungan dikabarkan selamat, tidak ada yang jatuh sakit. Mungkin hanya kecapekan saja,” pungkasnya.