Tim Labfor saat melakukan penyelidikan guna mengungkap penyebab pasti kebakaran di Pasar Lawang, Kecamatan Lawang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

Tim Labfor saat melakukan penyelidikan guna mengungkap penyebab pasti kebakaran di Pasar Lawang, Kecamatan Lawang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)



MALANGTIMES - Usai proses pemadaman berakhir, jajaran kepolisian kian gencar guna mengusut penyebab pasti kebakaran Pasar Lawang. Jumat (19/4/2019) pagi, satu mobil mengantar kedatangan Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri Cabang Surabaya Jawa Timur (Jatim), ke pasar tersebut.

Seperti yang sudah diberitakan, sedikitnya ada lima personel Labfor yang dikerahkan ke lokasi kebakaran yang menghanguskan sedikitnya 559 dari 1.300 kios, bidak, dan lapak (los) yang ada di Pasar Lawang.

Kelima personel Labfor dari Mabes Polri Cabang Surabaya Jatim yang diterjunkan untuk melakukan olah TKP (Tempat Kejadian Perkara), yaitu Kompol Handi Purwanto selaku Kaur Subbid Fiskomfor, Kompol Agus Santosa selaku Pemeriksa Forensik Muda, Kompol Hadi Setiyono selaku Pemeriksa Forensik Muda, Aiptu Kukuh Jayeng Trimono selaku Banum Subbag Renmin, dan Pengda Nursalim selaku Banum Subbag Renmin.

“Hari ini kami sudah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh dan komprehensif, kerusakan paling parah terjadi di lantai satu. Diindikasi tempat itulah yang menjadi titik awal kebakaran,” kata Kalabfor Mabes Polri Cabang​ Surabaya, Kombes Pol Koesnadi, saat ditemui awak media.

Selain memeriksa seluruh sudut lantai satu Pasar Lawang, Tim Labfor juga melakukan peninjauan ke lantai dua. Tidak hanya itu saja, beberapa pedagang juga dimintai keterangan guna mengungkap penyebab pasti kebakaran.

Hasilnya, kerusakan paling parah memang terjadi di lantai pertama. Hal itulah yang membuat petugas berspekulasi jika kebakaran pertama kali terjadi di lantai satu. Tepatnya di lokasi kios yang biasanya digunakan untuk para penjahit menjajakan jasanya.

Dugaan api berasal dari lantai satu, tepatnya di bagian sebelah selatan ini. Diperkuat dengan temuan petugas, jika nyaris tidak ada barang dan kios yang tersisa. Selama kurang lebih 40 menit penyidikan. Kebulan asab dari abu sisa pembakaran dan situasi ruangan panas, mengiringi proses penyidikan petugas.

Nyaris tidak ada yang tersisa, bahkan mesin jahit yang terbuat dari besi, juga sudah gosong karena terbakar. Total, petugas yang diterjunkan kelapangan butuh waktu dua jam untuk melakukan penyidikan. “Terdapat beberapa barang bukti yang kami bawa untuk mengungkap penyebab kebakaran. Barang bukti tersebut diantaranya kompor listrik, trafo lampu penerangan, setrika listrik, serta abu sisa kebakaran,” sambung Koesnadi.

Ketika ditanya terkait barang yang dibawa sebagai barang bukti kebanyakan benda elektronik, apakah menguatkan dugaan kebakaan dipicu konsleting listrik. Koesnadi beranggapan belum bisa menarik kesimpulan. Pihaknya berdalih barang bukti yang dibawa masih bersifat dugaan pemicu kebakaran. Namun secara faktual, dirinya beserta tim masih butuh pendalaman guna membuktikan.

“Kepastiannya menunggu dari penyidik. Jika sudah lengkap kami bisa menarik kesimpulan penyebab kebakaran. Mungkin 2 minggu lagi hasil Labfor sudah keluar,” pungkasnya.

 

End of content

No more pages to load