MALANGTIMES - Salah jurusan bukan berarti salah masa depan. Seperti dialami Richo Adriansyah warga Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Kromengan ini. 

Meski menempuh pendidikan di SMK (Sekolah Memengah Kejuruan) jurusan Teknik Mesin namun pria yang kini berusia 25 tahun ini justru sukses dibidang tata rias.

“Saya sudah tertarik dengan dunia tata rias sejak masih duduk di bangku kelas satu SD (Sekolah Dasar),” kata alumnus SD Negeri Kromengan 04 ini.

Kecintaanya dibidang tata rias semakin tak terbendung seiring bertambahnya tahun. 

Hingga akhirnya, sejak dirinya duduk di bangku kelas 5 SD Richo mulai belajar teknik merias secara otodidak. 

“Sepulang sekolah dulu, saya biasanya main ke rumah tante untuk bantu-bantu. Soalnya dirumah tante saya buka bisnis salon. Jadi sekalian belajar dan tanya-tanya soal merias,” sambung pria kelahiran 2 Januari 1994 ini.

Ilmu dan ketrampilan yang didapat dari tantenya tersebut, terus diasah oleh Richo. 

Hingga akhirnya, saat dirinya masuk bangku kelas 2 SMP (Sekolah Menengah Pertama). 

Keterampilan yang diperoleh secara otodidak ini, semakin berkembang dan bervariasi. 

“Ketrampilan rias yang saya miliki memang didapat secara otodidak, selain tanya ke saudara (tante). Saya juga belajar melalui youtube,” terang alumni SMP Dharma Wanita Kromengan ini.

Meski memiliki bakat terpendam di dunia tata rias, namun pihak keluarga sempat tidak mendukung kemampuan yang dimiliki Richo. 

Setelah lulus SMP, dirinya justru dimasukkan ke SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). 

“Ayah saya punya bisnis bengkel, jadi saya diminta untuk masuk jurusan teknik mesin,” tutur alumni SMK Dharma Wanita Kromengan ini.

Richo menambahkan, meski dirinya disuruh untuk menimba ilmu di teknik mesin namun pihaknya tidak lantas berputus asa. 

Ketrampilan dibidang tata rias justru semakin berkembang, sejak dirinya menempuh pendidikan di bangku SMK. 

“Waktu kelas 2 SMK dulu, saya memberanikan diri untuk membuka jasa freelance,” imbuhnya.

Dari yang semula hanya mulut ke mulut, bakat terpendam yang dimiliki pria berkulit langsat ini, ternyata semakin dikenal. 

Terutama dikalangan tata rias acara pernikahan dan wisudawan. 

Hingga akhirnya, pada 2009 silam Richo mulai memberanikan diri untuk mendirikan butik yang beralamatkan di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Kromengan. 

“Setelah 10 tahun membuka usaha di Malang, tiga bulan lalu saya membuka cabang di Surabaya,” ujar Richo.

Bermodalkan media sosial (medsos), kini sudah banyak orang yang memanfaatkan jasanya untuk berbagai kegiatan. 

Mulai dari Malang raya, hingga beberapa wilayah di Jawa Timur. Sudah pernah dijangkau olehnya. 

Bahkan diluar Jawa Timur, seperti Jakarta hingga Bali, juga pernah memanfaatkan kesaktian tangan Richo dalam mempermak wajah. 

“Semula hanya terima rias saja, tapi sekarang sudah berkembang. Saya juga melayani jasa Wedding Organizer (WO). Mulai dari dekorasi, tenda, busana, dan katering semua bisa kami layani,” sambung Richo.

Pilihannya untuk banting stir dari Jurusan Teknik Mesin ke bidang tata rias ini, sepertinya tepat sasaran. 

Hingga saat ini, Richo sudah memiliki 20 karyawan yang membantunya merias konsumen, dan lima karyawan yang membantu memperisapkan WO.

Jumlah karyawan yang banyak, tentunya sesuai dengan pendapatan yang didapat oleh pria yang kini berusia lebih dari kepala dua tersebut. 

Sebab, jika dirata-rata, dalam satu bulan Richo bisa menerima 70 pesanan. 

“Syukurlah, dari yang semula hanya modal seadanya dari uang freelance. Kini dalam satu kali orderan rias, saya mendapat bayaran mulai Rp 10 juta hingga 20 juta,” ungkapnya.

Selain fokus mengeluti bidang bisnis, Richo juga memyempatkan diri untuk mengikuti ajang perlombaan. 

Berbagai prestasi sudah pernah didapatkan, mulai dari tingkat lokal malang hingga nasional, sudah pernah diperolehnya.

Baru-baru ini kemahirannya dalam bidang WO, juga sempat viral Menjelang penyelenggaraan Pemilu (Pemilihan Umum) dan Pileg (Pemilihan Legislatif) 2019. 

Hal ini menyusul dari karyanya menyulap TPS (Tempat Pemungutan Suara) di tempat tinggalnya, menjadi bernuansa pernikahan.

Seperti yang sudah diberitakan, TPS 16 yang berlokasi di Desa/Kecamatan Kromengan, sejak kemarin (Selasa) sempat menghebohkan warganet melalui medsos.

Sebab, TPS 16 Desa Kromengan tersebut, tampil berbeda dengan TPS lainnya. 

Dengan mengusung konsep pesta pengantin, TPS 16 yang memakai rumah Supomo warga Desa Kromengan ini, disulap menjadi tempat resepsi. 

Hal ini sudah terlihat sejak warga yang menjadi pemilih tetap di Dusun Krajan RT 16 RW 05 sejumlah 172 orang, hendak memasuki ruang pencoblosan.

Warga disambut dengan aksesoris bebungaan dengan alur melengkung sebagai jalur masuk ke TPS. 

Bahkan para petugas TPS juga mengenakan busana pesta pengantin adat Jawa, yang siap menyambut kehadiran para calon pemilih.

Selain itu, di dalam ruangan TPS 16 aksesoris resepsi pengantin juga nampak semakin kental. 

Sebab di bagian atap ruangan bergelantungan bunga dan tepat di depan terlihat stage untuk pengantin. 

Keunikan ini membuat warga yang ada di Dusun Krajan, menyempatkan diri untuk mengabadikan moment langka tersebut. 

“Awalnya hanya iseng saja, tapi sebelum pencoblosan berlangsung. Saya sempat mengerjakan proyek pernikahan, daripada dekorasi bunganya dibuang, akhirnya digunakan untuk mendekorasi TPS,” ungkap Richo.

Guna merealisasi TPS bertemakan kondangan ini, Richo dibantu oleh 20 warga yang membantunya mendekorasi TPS selama tiga hari. 

Bahakan untuk membuat suasanya semakin kental akan tema pernikahan, Rabu (17/4/2019) pagi, Richo sudah menyibukkan diri untuk merias 7 orang petugas TPS. 

“Kalau dinominalkan dekorasi TPS ini membutuhkan biaya sekitar Rp 6 juta. Sedangkan untuk merias petugas satu orang biasanya dibandrol minimal Rp 250 ribu. Tapi ini sukarela, jadi tidak saya patok harga,” pungkasnya.