Ilustrasi kotak suara di TPS 53 Kelurahan Bunulrejo, Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Ilustrasi kotak suara di TPS 53 Kelurahan Bunulrejo, Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Malang tidak mengharuskan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) untuk melakukan kegiatan jemput bola ke rumah-rumah warga yang sakit. Meski memungkinkan dilakukan, KPU berharap panitia pemungutan suara (PPS) mendahulukan layanan maksimal bagi warga yang datang ke tempat pemungutan suara (TPS). 
 

Ketua KPU Kota Malang Zaenudin menyebut bahwa keputusan jemput bola ke rumah-rumah warga yang sakit diserahkan pada pihak KPPS. Pasalnya, KPPS yang mengetahui kondisi TPS dan juga lingkungan sekitar. Termasuk kesiapan petugas pengamanan hingga saksi-saksi yang hadir. "Secara teknis jemput bola itu dapat dilakukan, tapi teknis di lapangan itu tidak dapat dilakukan ya sudah," ujarnya. 
 

Menurut Zaenudin, berdasarkan pengalaman penyelenggaraan pemilu sebelumnya, upaya jemput bola dilakukan karena secara teknis pemungutan suara lebih sederhana. Sementara hari ini (17/4/2019) setiap pemilih mendapat jatah lima surat suara, yang artinya juga ada lima buah kotak suara yang harus diangkut ke rumah penduduk jika jemput bola. 
 

Selain itu, dari sisi efektivitas waktu juga harus dipertimbangkan oleh KPPS yang akan melakukan upaya jemput bola. "Misalnya ada 300 pemilih dalam 1 TPS, satu di antaranya sakit, maka kami akan berusaha melayani pemilih yang 299 orang itu dulu. Artinya, dapat dilakukan tapi jika tidak memungkinkan melayani jemput bola secara teknis maka kami ya nggak bisa," ujarnya.
 

Zaenudin menegaskan, pihaknya tidak membuat TPS khusus atau TPS mobile. Untuk kawasan-kawasan tertentu seperti rumah sakit, pihaknya menempatkan TPS reguler. "Misalnya TPS yang didirikan di kawasan rumah sakit itu adalah TPS reguler untuk lingkungan sekitar, jadi tidak khusus. TPS yang berdekatan akan diletakkan di sana," sebutnya.
 

Di Kota Malang, para pemilih terbagi dalam 2.343 tempat pemungutan suara (TPS). Rinciannya, di Kecamatan Blimbing ada 504 TPS untuk 131.596 pemilih. Lalu di Kecamatan Kedungkandang ada 525 TPS untuk 140.265 pemilih dan di Kecamatan Klojen terdapat 297 TPS untuk 76.987 pemilih. Yang terpadat, ada di Kecamatan Sukun dengan 551 TPS untuk 144.311 pemilih. Sedangkan di Kecamatan Lowokwaru ada 466 TPS untuk 117.521 pemilih.

End of content

No more pages to load