Wali Kota Malang Sutiaji saat menjadi pembicara terkait akreditasi jurnal ilmiah yang digelar Barenlitbang Kota Malang. (Foto: Dokumen MalangTIMES)
Wali Kota Malang Sutiaji saat menjadi pembicara terkait akreditasi jurnal ilmiah yang digelar Barenlitbang Kota Malang. (Foto: Dokumen MalangTIMES)

MALANGTIMES - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melalui Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan (Barenlitbang) bakal kembali menerbitkan kumpulan tulisan ilmiah dalam Jurnal Pangripta, pada 2019 ini. Jurnal tersebut bakal menjadi jembatan komunikasi antara akademisi dengan pemerintah untuk memecahkan permasalahan-permasalahan kota. 

"Saya ini sebenarnya malu, Kota Malang ini kota kecil yang punya banyak perguruan tinggi, disebut kota pendidikan, tapi kotanya ruwet, pendapatan asli daerah (PAD) kecil, banjir," ujar Wali Kota Malang Sutiaji saat hadir menjadi keynote speaker Manajemen Pengelolaan Jurnal: Evaluasi Kesiapan Sesuai Akreditasi Nasional dan Internasional, hari ini (16/4/2019) di Hotel Savana Malang. 

Sutiaji menekankan bahwa antara pemerintah dengan perguruan tinggi saling membutuhkan. Dia menyebut, dari ratusan ribu tugas kuliah, skripsi, tesis, desertasi, dan penelitian-penelitian yang dilakukan civitas akademica di kampus tak jarang menjadikan Kota Malang sebagai subjek dan objek ataupun sekadar lokasi penelitian. "Semuanya tidak berdiri sendiri. Ilmu pengetahuan apa artinya jika tidak diterapkan," sebutnya.

Dia mencontohkan, hingga saat ini belum ada survei terkait arah gerak warga kota sehari-hari terutama di jam-jam padat lalu lintas. "Misal kalau pagi, dari Jalan MT Haryono itu warga bergerak ke arah mana saja. Jadi macet ini nanti ketemu alternatif-alternatif jalan. Kalau tidak ada kajian keilmuan, maka kebijakan dishub hanya coba-coba dan sulit bisa mengurai kemacetan ini," tuturnya. 

Jika kajian-kajian semacam itu banyak dibuat, maka selain menambah poin penelitian bagi penelitinya, juga akan bermanfaat bagi masyarakat. "Agar nilai tambahnya makin tinggi. Dan ini tidak banyak dimanfaatkan oleh pemerintah daerah," tegasnya. Sutiaji menekankan agar penelitian tidak berhenti di tulisan dan disimpan di rak-rak perpustakaan milik kampus. Jika riset berhasil, bisa dibuat pilot project hingga direplikasi dan diterapkan di Kota Malang.

Kepala Barenlitbang Kota Malang Erik Setyo Santoso menambahkan bahwa penerbitan Jurnal Pangripta tersebut diharapkan menggali potensi penelitian di Kota Malang dalam proses perencanaan pembangunan ke depannya. "Pemkot Malang selaku pengambil kebijakan dalam menentukan sesuatu, pastinya juga berawal dari penelitian dan kajian," ujarnya.

Sehingga, lanjut Erik, kebijakan tersebut tidak terkesan asal ketok palu. "Baik masalah infrastruktur, pendidikan, sosial budaya, ekonomi, kesehatan dan lain-lain, semua ingin yang terbaik. Komunikasi antara pemerintah dan akademisi ini harus cair dan membaur, tidak lagi ada dikotomi. Sehingga strategi pentahelix benar-benar dilaksanakan," tegasnya.

Kota Malang sendiri memiliki media publikasi jurnal bernama Jurnal Pangripta dan mulai terbit sejak tahun 2018 lalu. Setiap tahunnya, jurnal tersebut terbit sebanyak 2 kali yaitu di pada Maret dan September. Fokus bidang Jurnal Pangripta adalah terkait perencanaan pembangunan. Jurnal ini bertujuan untuk mewadahi segala hasil penelitian maupun pengembangan dengan lokus di Kota Malang.