MALANGTIMES - Pro dan kontra terhadap film dokumenter berjudul Sexy Killer karya Dandhy Laksono bersama tim Watchdoc, terus bergulir di masyarakat. 

Selain berbagai pemutaran film dokumenter yang menyorot nasib masyarakat lokal di daerah-daerah pembangkit listrik, di berbagai kota, banyak pula masyarakat yang memberikan testimoni berseberangan dalam menyikapi film yang juga mendulang banyak apresiasi.


Di pihak yang pro menyampaikan apresiasi atas kerja keras para pembuat film. Atas lahirnya film yang mengupas keterlibatan para pejabat pusat dalam menguasai saham perusahaan pembangkit listrik. Para pejabat yang keduanya terlibat aktif dalam kontestasi pemilu 2019. 


@alfad_nur, "film ini layak dapat apresiasi & penghargaan, terimakasih sebesar besarnya buat @watchdoc_ID @Dandhy_Laksono  #sexykillers," tulisnya.


Senada dengan @RamdaniNrz yang menuliskan apresiasinya. "Selamat, karya film dokumenter besutan anda mampu untuk menyadarkan jutaan pasang mata yang menontonnya. Semoga kedepan, anda tetap berkarya dengan hati, agar tetap jujur dalam menuangkan apapun. Big respect to you #SexyKillers," ujarnya, Selasa (16/04/2019).


Warganet yang memberikan apresiasi pun menganjurkan agar Sexy Killer dijadikan tontonan bersama-sama di berbagai ruang. Seperti yang disampaikan @RobbyVzer. "Meski sudah ada di Youtube, saya sangat merekomendasikan jika ada nobar #SexyKillers di kampung atau kampus, sebaiknya bergabung. Pengalaman menonton bareng dan obrolan setelahnya, jauh lebih berharga daripada menonton sendiri sambil tiduran di rumah," ungkapnya.


Film Sexy Killer dari akun Watchdoc Image telah ditonton sekitar 4,8 M. Dengan durasi 1:28 menit dan dibuka dengan adegan aktivitas sepasang manusia di sebuah kamar. Serta penjelasan terkait pemakaian listrik yang dipergunakan oleh pasangan tersebut. Lantas dilanjut dengan dialog, "...semua berawal dari ledakan di dalam tanah...".


Sexy Killer dari ucapan narator dalam film juga menyampaikan tim sampai wilayah Kalimantan di tahun 2015 lalu. Proses penggarapan film Sexy Killer pun menurut beberapa warganet dilakukan 2 tahun lalu. Hal ini yang menjadi pertanyaan di beberapa warganet terkait Sexy Killer.


@Isxmln, "So sad, dan film e pun diambil semenjak 2 tahun lalu wheree is the truth?" tulisnya. Beberapa komentar terkait penayangan film Sexy Killer pun bermunculan di medsos. Rata-rata mereka menyampaikan tujuan Dandhy dan tim untuk menayangkan film tersebut di masa tenang Pemilu 2019.


@AsaIchsan menyampaikan, "Mas, bentar lagi mau pemilu loh. Mau tanya aja sih kok uploadnya mepet bgt sama hari pencoblosan yah? Supaya apa? Banyak org golput? Atau apa?," tulisnya. Senada @panjimohamet juga berpendapat terkait hal itu. "gila ironically ini "serangan fajar"  yang sesungguhnya hahahaha, #SexyKillers gue hampir golput kalau sadiaga gak bilang "tdk mau ambik gaji sgb wapres" tulisnya.


Film Sexy Killer yang banyak menuai apresiasi juga dibaca warganet di medsos Instagram sebagai bagian dalam mengukuhkan sikap politiknya. Seperti akun lohkokbisasih yang menuliskan, "Tanpa dokumenter ini pun saya sudah golput, apalagi dengan dokumenter ini saya semakin mantap dengan golput saya...' tulisnya. 


Akhmadmuazir pun menulis, "Saya semakin yakin memilih nurhadialdo," ucapnya.


Di sisi lain banyak pula yang meragukan Dandhy sebagai pembuat film Sexy Killer. Warganet yang mengaku merupakan masyarakat sekitar lokasi dalam film menyampaikan, bahwa dirinya bisa hidup dengan adanya pertambangan tersebut. 


@rizalefriansyah, "Tolong salamin @dandhy_laksono dong bang. Salam dari saya warga desa bukit pariaman yg bisa sekolah, n hidup dari kegiatan pertambangan disana, kebetulan ga jauh dr desa mulawarman n desa kerta buana," tulisnya menyikapi isi film Sexy Killer yang menurut @anzharcore, "Penilaian parsial dari film sexy killers, hanya melihat dari sektor hulu saja (Tambang Batu bara), tanpa melihat dampaknya di hilir  cc: @Dandhy_Laksono,".


Sebagian lain menanyakan pembiayaan pembuatan film Sexy Killer seperti yang disampaikan @maung33seuneu, "@Dandhy_Laksono dan @watchdoc_ID banyak ditanyain juga: yang biayain siapa?" tanyanya.


Banyak pula warganet yang merasa kurang sreg dengan adanya komentar-komentar miring terkait Sexy Killer. Baik terkait dugaan adanya penggiringan opini ke salah satu calon presiden 2019, golput, pemblokiran akun kritik oleh Dandhy, ada kepentingan khusus dan lainnya. Misalnya, @SharpButSoft_ yang menuliskan, "Anak2 muda yg tumbuh & besar di twitter sdg menyerang @Dandhy_Laksono dgn tuduhan cari panggung. Kalau dilihat dari track record, Dandi ini jauh lbh kliatan jejak sejarahnya drpd anak2 muda twitter itu. Tp sbg dialektika proses itu sih positif, apalagi jk ada interaksi lgs,"ucapnya.


Lepas dari pro dan kontra film Sexy Killer yang viral di berbagai medsos, komentar @jeffryrisandy patut direnungkan, "Baru beres menonton #SexyKillers karya WatchDoc besutan Dandhy Laksono. Patah hati dan mendadak ingin marah-marah entah pada siapa. Penguasa? Pengusaha batu bara? Atau diri sendiri yang masih teramat boros dalam menggunakan listrik," tulisnya.