Ilustrasi kiamat bagian keenam di bumi (Ist)

Ilustrasi kiamat bagian keenam di bumi (Ist)



MALANGTIMES - Tahukan Anda, bahwa bumi yang ditempati pernah mengalami 5 kali kiamat yang membuat penghuni di dalamnya mengalami tingkat kematian yang sangat fantastik. Yakni antara 70 persen sampai 95 persen makhluk di dalamnya mengalami kematian.

5 kiamat di dunia tersebut disebut sebagai sumber kepunahan masal yang sangat mengerikan. Tidak hanya satu spesies yang mengalami kepunahan secara pesat, tapi lebih dengan interval geologis yang relatif singkat dan tersebar.

Jack Sepkoski (26 Juli 1948 - 1 Mei 1999) seorang ahli paleontologi Universitas Chicago dalam artikel berjudul  “Phanerozoic Overview of Mass Extinction” (1985) serta artikel lain yang ditulisnya. Menyampaikan 5 kiamat yang pernah melanda bumi dan mengakibatkan tingkat kematian sangat tinggi.

Periode kiamat tersebut adalah Ordovician. Terjadi sekitar 445 juta tahun lalu dan dipicu oleh pendinginan global dan penurunan permukaan laut. Kiamat Ordovician ini telah membuat tingkat kematian mencapai 85 persen spesies di bumi. 

Periode kiamat lainnya adalah Devonian yang menyebabkan kematian spesies mencapai 70 persen. Terjadi pada 340 tahun silam dengan penyebab jatuhnya asteroid dan pendinginan global. Sedangkan periode kepunahan ketiga adalah Permian yang disebabkan aktivitas vulkanik, kenaikan kandungan metana dan CO2, serta pemanasan global. Kepunahan dunia ini terjadi 250 juta tahun yang lalu dengan membunuh 90 persen spesial yang ada.

Tidak berhenti di periode Permian, kepunahan masal dilanjut dengan periode Triassic yang terjadi 200 juta tahun lalu. Tingkat kematian spesies mencapai 76 persen akibat naiknya kandungan metana dan CO2.

Lantas disusul dengan periode terakhir kepunahan massal di periode Cretaceous–Tertier. Periode kiamat ini dikenal juga sebagai awal punahnya dinosaurus serta spesies lainnya dengan prosentase mencapai 80. Periode ini terjadi 65 juta tahun silam dan dipicu dengan jatuhnya asteroid, aktivitas vulkanik, serta menurunnya permukaan laut. 

Berbagai kiamat yang telah mengubah bumi sejak ribuan tahun lalu tersebut, sebagian menjadi catatan-catatan manusia dalam berbagai budaya. Dipercaya akan terus berulang dan terjadi sampai pada titik yang paling ekstrim, yakni kepunahan total seluruh spesies di bumi.

Maka, tak heran berbagai nubuat atau ramalan dari berbagai budaya dan negara terus tumbuh terkait akan datangnya kiamat sesion keenam. Sesion dimana manusia percaya, dengan angka satu dari tujuh orang diseluruh dunia percaya, kiamat akan terjadi saat mereka masih hidup. Demam kiamat begitu kuat dan merebak di tahun 2012 berdasarkan kalender suku Maya.

Demam kiamat ini pula dalam sepanjang sejarah  memunculkan berbagai manusia yang dipercaya mampu meramal datangnya hari akhir tersebut. Terakhir yang membuat viral terkait ramalan akan datangnya kiamat, menjelang penghujung akhir tahun 2018 adalah Baba Vanga. 

Nama Baba Vanga mencuat di jagad maya dan masuk daftar pencarian Google Trend dikarenakan berbagai ramalannya atas dunia yang bakal terjadi. Di Indonesia, ramalan akan datangnya kiamat juga menyentak masyarakat dan datang dari Ponorogo, Jombang dan daerah lainnya di wilayah Jawa Timur (Jatim), beberapa waktu terakhir di tahun 2019.

Ketertarikan manusia atas kiamat, menurut Jeff Greenberg, seorang psikolog sosial dari University of Arizona, berasal dari rasa penasaran bawaan manusia terhadap hal-hal yang membuat kita takut.
"Itu adalah sesuatu yang kita takuti (kiamat) dan hal-hal yang kita takuti juga membuat kita penasaran," ucap Greenberg dikutip dari  Newsweek. “Ada minat alami terhadap hal-hal yang kita khawatirkan dan yang menakuti kita. Ada ketertarikan dengan kami," lanjutnya.

Lantas benarkah kiamat sesion keenam akan terjadi di tahun 2019 ini? Kiamat dengan ditandai oleh kepunahan jutaan spesies di darat dan laut termasuk manusia.

David Wallace-Wells seorang jurnalis dan penulis buku Bumi yang Tidak Dapat Dihuni, New York: Tim Duggan, 2019, dalam artikelnya menuliskan, sejumlah gejala dan kondisi yang saling terkait dan mempercepat kemusnahan masal keenam atau kiamat semakin keenam. Adalah naiknya suhu global, krisis pangan, ancaman merebaknya bakteri dan virus yang tertimbun dalam es, polusi udara, kebangkrutan ekonomi, dan meningkatnya kadar racun di lautan. 

"Tapi, faktor kuncinya adalah pemanasan global. Sejak tahun 1980, jumlah tempat yang mengalami peningkatan suhu secara ekstrem naik hingga lima puluh kali lipat,” tulis Wallace-Wells.
Selain Wallace-Wells, para ilmuwan luar angkasa juga melakukan prediksi terkait kiamat bagian keenam ini. Dimana mereka menyampaikan bumi memang akan hancur lebur  ketika matahari sebagai pusat tata surya makin menua dan kehabisan bahan bakarnya sendiri. Di fase ini matahari akan membengkak secara maksimal yang disebut raksasa merah. Setelah itu Bumi mungkin akan terhisap ke matahari. Kejadian itu diprediksi terjadi antara 5 hingga 7,76 miliar tahun mendatang.

End of content

No more pages to load