MALANGTIMES - Kasus pengeroyokan dan bullying terhadap Audrey, siswi SMP di Pontianak, Kalimantan Barat masih hangat dibicarakan di linimasa. Sebagian besar masyarakat mengecam tindakan keji yang dilakukan oleh para remaja tersebut. Bahkan, Presiden Jokowi sampai angkat bicara.

Praktik intimidasi hingga bullying di lingkungan pendidikan pun akhir-akhir ini disorot dan menjadi warning bagi Pemerintah. Lantas mengapa anak-anak ini bisa sampai berbuat demikian?

Banyak tanda tanya dari masyarakat. Selain mengecam para pelaku, masyarakat juga mempertanyakan bagaimana pola asuh orang tua mereka sehingga anaknya berbuat demikian.

Diana Savitri Hidayati, S.Psi., M.Psi., pakar Psikologi Klinis Anak & Ketahanan Keluarga Fakultas Psikologi (FaPsi) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerangkan, kejadian tersebut memang sangat berkaitan dengan pola asuh orang tua mereka.

“Karena masih di bawah umur semua, jadi tanggung jawab ada di orang tua,” tutur Diana.

Perlu dipahami, jika kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan dilakukan berulang terhadap orang yang sama, maka baru dapat dinamakan bullying. Jika sekali, belum bisa dikatakan bully tetapi intimidasi.

“Kalau sudah masuk ke tindakan kriminal, itu ranah hukum. Dalam kasus Audrey, Psikologi memandang ada yang salah dengan pola asuh yang diterima pelaku dari orang tua mereka,” ungkapnya.

Menurut Diana, bisa jadi anak tidak menemukan kenyamanan di rumah kemudian menemukan kenyamanannya di luar yang sayangnya cenderung ke arah negatif. Untuk itu, orang tua perlu melakukan pengawasan ke grup bermain yang menjadi tempat di mana si anak bertumbuh kembang.

“Jangan-jangan pelaku tak menemukan kenyamanan di rumah, dan menemukan kenyamanan di luar,” ujarnya.

Menurut Diana, fase usia sekolah menengah pertama dan atas adalah masa di mana anak-anak mencari pengakuan dan jati diri. Masa-masa tesebut perlu dampingan intensif orang tua.

"Sebab apabila tak didampingi, anak akan menafsirkan berbagai hal dengan kemampuan terbatasnya," jelasnya.

Untuk itu, orang tua harus berperan sebagai sosok pendengar yang baik. Anak selayaknya diberi kesempatan untuk berkontribusi di setiap pengambilan keputusan di keluarga.

"Orang tua dapat membebaskan anaknya untuk berbuat apapun, namun tetap di bawah kontrol orang tua. Juga, melarang disertai dengan alasan yang dapat dipahami anak," terang Diana.

Pola pengasuhan demikian cukup untuk membuat anak nyaman di rumah. Dengan mengontrol perkembangan anak oleh orang tuanya, bukan berarti tidak menaruh kepercayaan kepada anak. Namun, sebagai orang tua sudah menjadi kewajiban untuk memahami bagaimana anak bertumbuh kembang.

“Sayangnya tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua,” pungkasnya.