MALANGTIMES - Balai Arkeolog Yogyakarta mendapati 5 struktur bangunan setelah dilakukan identifikasi dalam ekskavasi lanjutan situs sekaran. Di antaranya, 2 struktur gapura, 2 struktur batur dan sebuah bangunan. "Yang baru diindentifikasi baru 5, 2 struktur gapura, 2 struktur batur, dan sebuah bangunan," ujar Herry Priswanto Ketua Tim penelitian dari Balai Arkeolog Yogyakarta kepada MalangTimes.com.

Proses penelitian yang dilakukan saat ini masih menggunakan cara manual dengan proses ekskavasi secara vertikal. Proses ekskavasi secara vertikal tersebut dikatakan Herry untuk menemukan lapisan budaya.

Kemudian ia juga mengatakan bahwa dari penelitian secara vertikal tersebut, ia mengatakan target hasil penelitian yang dilakukan bersama timnya tersebut adalah untuk mengetahui profil bangunan awal dari temuan struktur tersebut. "Target penelitian secara vertikal ini, nanti akan terlihat profil dari struktur bangunan itu seperti apa," jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa hasil sementara yang didapatkan adalah struktur bata tersebut merupakan pondasi dari bangunan. Ia menjelaskan bahwa struktur tersebut dulunya terdapat sebuah bangunan di atasnya. Pasalnya ia mendapati informasi dari penduduk bahwa sebelumnya para penduduk sudah menemukan bata berukuran seperti bata yang ada di struktur tatanan bata situs sekaran tersebut.

"Sementara masih belum signifikan, karena sebagian besar temuannya berupa pondasi, dugaan awalnya dulu ada bangunan yang berdiri di atasnya," ujarnya.  

Sementara itu, ia masih belum bisa mengatakan bangunan tersebut peninggalan abad ke berapa. Sebab ia masih belum menemukan orang yang bisa digunakan untuk mengindikasikan bangunan tersebut peninggalan dari abad keberapa dan di zaman kerajaan apa.

Namun, untuk temuan tersebut, ia memberikan penjelasan yang sama seperti penjelasan dari BPCB Trowulan terkait temuan tersebut. Ia mengatakan struktur bata tersebut merupakan sebuah tempat peribadatan. "Kalau lihat komponennya, ada gapura, batur dan pagar, idealnya ini tempat peribadatan, indikasinya ada sungai di dekat lokasi temuan ini. Karena di zaman dulu tempat peribadatan itu selalu dekat sungai," pungkasnya.