Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

*dd nana

Rodob Not Godot

1- Lelaki itu memanggil sunyi, sebelum kisah ditutup dan kitab disimpan. Pada waktu yang telah berikrar untuk menjaganya.

"Kupercayakan masa lalu ini padamu. Simpan dan jangan kau izinkan warna dan bentuk-bentuk membacanya," ucap lelaki yang kini berhadapan dengan sunyi. Di sebuah ruang tunggu dengan warna kayu telanjang dan enggan meminta warna buatan. Ruang yang kerap juga disinggahi hewan malam, saat sepi merobek kulit mereka.

Tapi kau akan menjadi dungu, pangeran. Saat kisah dan kitab itu kau titipkan waktu. Dan kau panggil aku. "Tidak ada yang setabah batu karang, pangeran. Tidak ada yang setenang tanah," lirih sunyi dengan wajah purnama yang diusap awan gulita.

Lelaki yang telah membengkokkan waktu dan mendaraskan nubuat pada setiap tangan yang tengadah, mengulum senyum. Matanya malam setenang cahaya pagi yang menepati janji.

"Aku memilih menjadi dungu di mata yang terbuka. Maka aku panggil kau sunyi. Agar pikiranku bisa setabah sepi. Agar ragu beringsut serupa serigala-serigala yang ditinggalkan bulan purnama,".

Sejak itu, lelaki yang bercakap-cakap dengan sunyi  meminjam paras tanah dan legamnya malam. Berbicara serupa hewan-hewan malam, para tamu tengah malam yang singgah di beranda rumahnya. Mengolah remah dunia menjadi panggung sirkus yang patut dirayakan, ditertawakan.

Dungu, dungu, dungu.

Dan lelaki itu semakin tertawa senang sambil menyembunyikan kebenaran lebih dalam. Dan para punakawan cengegesan sambil memupuri akal sehat yang diagung-agung mereka yang berdiri di atas dua kaki. 

Di panggung, kisah-kisah ditulis secara terbalik. Dan dijadikan bahan olok-olok punakawan dan lelaki yang menitipkan kejayaan pada waktu dan sunyi, duduk dengan perut buncit dan wajah selam tanah. Jemarinya terus menulis, "akal sehat, akal sehat, akal sehat. Adalah kedunguan-kedunguan bertopeng. Adalah makhluk sekarat yang dihidupkan melalui selang-selang yang kau sebut pengetahuan. Pengetahuan ? adalah ha ha ha."

Dungu, dungu, dungu.

Penonton tertawa. Penonton mengernyitkan dahi dan kebanyakan terlongo-longo. Sambil merapatkan mantra, " dungu, dungu, dungu ha ha ha...".

Sedang akal sehat sedang sibuk di luar bersama kebenaran. Merebus ketela, menjerang air, menyeduh kopi untuk dihidangkan pada para punakawan. 

"Sandiwara sang pangeran keterlaluan..." ucap mereka dengan keringat di dahi.

2- Biarkan aku membelah batu dengan cukil kayu.

Apa kau dungu, tuan ? Pakailah gerindra.

Lelaki itu terkekeh. Tangannya berdarah-darah tapi tak terlihat untuk menyerah.

"Sejauh mana kau mengenal luka, tuan?" ucapnya. 

Waktu berdiri menyaksikan dengan senyum menawan. Di beranda rumah lelaki yang pernah menitipkan kisah yang dicatat dalam kitab-kitab.

3- Aku mengingkari kekuasaan agar mengenal rasa pahit mencekik. Aku bengkokkan punggung ini agar hidup bisa jadi pelajaran. Dan perut ini, biarkan semakin menggunung. Agar kalian faham, bahwa muasal semua kita adalah remahan tanah yang dikumpulkan. Dari bawah, dari bawah.

"Lupakan kita memiliki nenek moyang yang pernah menjadi raja segala yang diciptakan. Agar akalmu mengenal legam tanah,".

4- Percayalah, yang sehat itu yang tiarap. Yang mengenal kedunguan dan mengupasnya selapis demi selapis. Tanpa harus merayakan kejayaan akal yang kerap menipu batin.
Maka, jangan takut untuk menangis. 

* Hanya penikmat kopi lokal