Petugas BPBD Kota Batu saat melakukan pemasangan di Kecamatan Bumiaji. (Foto: ist)

Petugas BPBD Kota Batu saat melakukan pemasangan di Kecamatan Bumiaji. (Foto: ist)


Editor

A Yahya


MALANGTIMES - Permintaan penambahan pendeteksi bencana longsor berupa alat Early Warning System(EWS) akhirnya tertampung dalam Musyawarah Rencana Pembangunan Jawa Timur. Penambahannya sebanyak 11 unit yang bakal dipasang di beberapa titik di Kota Batu.

Alat EWS itu bakal ditempatkan di Kecamatan Batu dan Kecamatan Bumiaji. Untuk di Kecamatan Batu ada di titik Desa Sumberejo yang memang kawasannya berdekatan dengan perbukitan. Sedangkan di Kecamatan Bumiaji ada di Desa Sumber Brantas diberi 5 unit. Lalu di Desa Gunungsari 1 unit alat EWS, di Desa Punten diletakkan 2 unit alat EWS, dan di Desa Tulungrejo diberi 2 unit alat EWS. 

“Iya alat EWS ini kita meminta ke Jatim dan terakomodir, untuk 11 unit dengan total anggaran Rp 2,7 miliar,” kata Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso.

Ia menjelaskan alat EWS berfungsi untuk membantu masyarakat dalam peringatan dini. Terutama di daerah yang memang rawan longsor seperti dua tempat di Kecamatan Batu dan Kecamatan Bumiaji.

Hanya saja, alat ini berfungsi sebagai peringatan dini. Cara kerja alat ini yaitu mengirimkan sinyal kepada tim Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB). “Kemudian nanti akan diteruskan kepada masyarakat. Sehingga saat akan terjadi bencana longsor alat ini akan diberitahu,” imbuhnya. 

Tidak hanya itu saja, alat ini juga bisa mengetahui tekanan pori tanah, pergeseran tanah dan kemiringan tanah. 

Sebelumnya memang Kota Batu sudah memiliki tiga alat ini, tetapi ternyata dianggap masih belum cukup dan dianggap kurang efektif untuk mendeteksi bencana longsor di Kota Batu.

Tiga alat yang dipasang itu ada di Desa Sumber Brantas dan Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji. EWS diletakkan di tempat tersebut karena daerah itu rawan terjadi bencana longsor. “Alat ini sudah ada sejak tahun 2016 lalu dan merupakan hibah dari Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jatim,” tutup Punjul.

End of content

No more pages to load