Dirjen Dikdasmen Kemendikbud Hamid Muhammad (menyentuh mesin) dan Kepala Sekolah SMK PGRI 3 Malang Lukman Hakim (jas hitam). (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

Dirjen Dikdasmen Kemendikbud Hamid Muhammad (menyentuh mesin) dan Kepala Sekolah SMK PGRI 3 Malang Lukman Hakim (jas hitam). (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) mengharapkan SMK di seluruh Indonesia mempunyai partner industri untuk menjaga kualitas lulusan yang link and match dengan kebutuhan tenaga kerja saat ini.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Hamid Muhammad, M.Sc., Ph.D. saat ditemui di SMK PGRI 3 Malang yang pada saat itu melaunching kelas industri baru bernama YMPI (Yamaha Musical Products Indonesia) Class.

"Kita harapkan ke depan semua SMK di seluruh Indonesia itu harus punya partner kerja industri, partner kerja perusahaan, sehingga anak-anak kita ini mulai bersekolah itu sudah jelas kompetensi apa yang harus ditekuni dan mereka nanti akan bekerja di mana," paparnya.

SMK PGRI 3 Malang sendiri termasuk SMK binaan, rujukan, dan revitalisasi. 

Hamid berharap apa yang telah dilakukan SMK PGRI 3 ini dilanjutkan, serta menjadi contoh bagi SMK-SMK yang lain, baik di Malang maupun di seluruh Indonesia.

Dikatakan Hamid, langkah yang dilakukan SMK PGRI 3 untuk bekerja sama dengan industri ini merupakan bagian dari kelanjutan program revitalisasi SMK yang dimulai Kemendikbud sejak 2016.

"Jadi kalau tahun-tahun pertama itu kita lebih banyak fokus pada pembenahan kurikulum. Kemudian kerjasama antarkementerian dan beberapa industri di level nasional. Maka yang dilakukan di SMK PGRI 3 ini merupakan tindak lanjut di level mikro, di level sekolah," ujarnya.

"Dan kami dari Kemdikbud sangat menyambut baik dan apresiasi karena MoU yang kita lakukan di level nasional sekarang sudah turun sampai level sekolah, sampai pada level bukan hanya praktik kerja siswa tetapi juga sampai rekrutmen," paparnya lebih lanjut.

Besar harapan Hamid agar SMK PGRI 3 menjadi contoh bagi SMK yang lain. 

Ia meminta sekolah-sekolah aliansi yang menjadi bagian dari SMK PGRI 3 menyontoh apa yang sudah dilakukan SMK PGRI 3.

"Dan jangan lupa untuk memperbaiki segala hal yang menyangkut masalah kurikulumnya, masalah kompetensi gurunya, sarprasnya, kemudian uji kompetensi siswanya, dan yang penting itu mitra dengan industri," imbuh Hamid.

Sementara itu, Kepala SMK PGRI 3 Malang M Lukman Hakim, ST menyatakan bahwa launching ini dilakukan untuk meyakinkan masyarakat secara luas bahwa SMK bukan pilihan kesekian.

"Kita ingin menunjukkan bahwa SMK adalah pilihan utama, yang mana kami juga akan menjawab semua permasalahan-permasalahan yang selama ini menjadi kekhawatiran bangsa yaitu bahwa SMK telah memberikan sumbangan pengangguran terbanyak," ungkapnya.

Ditegaskan Lukman bahwa launching kelas industri ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mengubah fakta bahwa lulusan SMK memberikan sumbangan pengangguran terbanyak. Nantinya, kelas-kelas industri di SMK PGRI 3 akan ditambah secara bertahap.

"Paling tidak kami bisa meyakinkan kepada masyarakat bahwa dengan sekolah di SMK, anak-anak akan mendapatkan kompetensi yang diharapkan oleh perusahaan sehingga disparitas antara kebutuhan perusahaan dengan lulusan sekolah itu semakin kecil dan kita bisa memenuhi kebutuhan semua kebutuhan perusahaan," paparnya.

Untuk diketahui, SMK PGRI 3 juga merupakan salah satu SMK yang menerapkan pembelajaran teaching factory. 

Model pembelajaran ini berbasis produksi/jasa yang mengacu pada standar dan prosedur yang berlaku di industri dan dilaksanakan dalam suasana seperti yang terjadi di industri. 

Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan SMK Provinsi Jawa Timur Dr. Suhartono, M.Pd berharap semua SMK di Jawa Timur juga menerapkan model pembelajaran ini.

"Kalau tefa atau teaching factory ini sebenarnya di SMK-SMK di Jawa Timur ini kita harapkan semua lembaga setidaknya ada. Karena sebenarnya teaching factory itu konsepnya adalah untuk membelajarkan anak yang belajar real dalam dunia industri. Jadi ruang di lembaga itu memang dikemas khusus seakan-akan dijadikan peluang industri," terangnya.

Nah, dalam teaching factory itulah anak-anak bisa akan mempelajari bagaimana dunia industri yang sebenarnya.

"Karena kalau di Indonesia barangkali dengan banyaknya siswa itu dunia industri dan dunia usaha mungkin tidak mencukupi untuk anak-anak itu untuk praktik. Maka untuk mengantisipasi itu, membuat peta masing-masing lembaga," pungkasnya.

End of content

No more pages to load