MALANGTIMES - Hari yang dinantikan bagi Aremania dan Aremanita telah tiba. Ya, hari ini, Jumat (12/4/2019), Arema FC dijadwalkan bakal menjamu tamunya, yakni Persebaya, dalam leg kedua final Piala Presiden 2019. 

Berbagai persiapan, mulai dari panitia pelaksana hingga personel keamanan, sudah disiagakan di Stadion Kanjuruhan. Seperti yang sudah diberitakan, Polres Malang mengerahkan sedikitnya 4.280 personel kepolisian. Ribuan anggota korps berseragam cokelat ini tidak hanya berasal dari Mapolres Malang, namun juga berasal dari polres jajaran yang ada di Jawa Timur (Jatim).

Ribuan polisi dikerahkan menginggat laga ini diprediksi bakal memiliki tensi tinggi. Nantinya, pengamanan laga final ini bakal dipimpin langsung oleh Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan.

Dari pantauan MalangTIMES, ribuan personel polisi sudah tiba di Stadion Kanjuruhan, Jumat (12/4/2019) sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Ribuan anggota kepolisian ini tampak memulai agenda apel pasukan pengamanan.

Setiap sudut lapangan tidak luput dari pengawasan petugas. Hal ini bertujuan untuk memastikan jika tidak ada barang mencurigakan yang dimungkinkan diselundupkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Di sisi lain, hal yang tidak kalah meresahkan bagi pecinta sepak bola di antaranya adalah keberadaan calo tiket. Iya, nyaris setiap Arema berlaga di kandang, terutama saat pertandingan big match,  calo tiket biasanya berseliweran di luar hingga sepanjang jalan menuju Stadion Kanjuruhan.

Ketika ditanyakan kepada Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung, pihaknya mengaku jika selama ini juga mengawasi gerak gerik calo tiket tersebut. Menurut dia, para oknum calo ini biasanya sengaja membeli tiket dengan jumlah yang banyak.

Modusnya juga bervariasi meski panitia pelaksana sudah melakukan beberapa atensi guna menekan keberadaan calo. Nyatanya masih ada saja oknum yang bisa mendapatkan tiket dengan kuantitas yang tinggi. Dengan demikian, para suporter yang kehabisan tiket mau tidak mau harus membelinya kepada calo.

Ketika itulah, calo-calo tersebut akan melepas tiket dengan harga yang jauh dari tarif yang sudah ditentukan panitia pelaksana. “Ya dilihat dulu. Kalau ada unsur pelanggaran, para calo bisa dikenakan pasal 368 KUHP ayat 1 tentang pemerasan,” kata Ujung kepada MalangTIMES.

Perwira polisi dengan dua melati di bahu ini menambahkan, terdapat beberapa poin penting bagi calo yang bakal disangkakan dengan pasal pemerasan tersebut. Di antaranya adanya pemaksaan kepada para suporter agar membeli tiket dari mereka (calo). “Ya kalau mau sama mau, tentunya tidak bisa dikenakan pasal pemerasan. Tapi kalau ada upaya pemaksaan dan melanggar hukum, tentunya bisa diproses sesuai ketentuan yang berlaku,” tegasnya.

Kapolres memang tidak menampik akan keberadaan calo tiket. Namun sejauh ini, antara calo dan pembeli terpantau tidak ada unsur pemerasan. “Sementara ini belum ada laporan dari masyarakat, jadi sementara tidak bisa kami tindak lanjuti keberadaan calo ini,” ucap Ujung.

Terlepas dari itu semua, Ujung sepertinya lebih fokus kepada pengamanan menjelang maupun paska pertandingan berlangsung. Selain menyiagakan pasukannya, pihaknya juga aktif melakukan pertemuan dengan pendukung Arema. 

“Ini bukan hanya soal sepak bola, tapi juga marwah Kabupaten Malang sendiri. Kalau sampai ada kericuhan, yang rugi bukan hanya Arema karena bisa dapat sanksi dari PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia), tapi juga seluruh masyarakat yang ada di Malang,” ujar Ujung.