Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Prof Dr Abdul Haris MAg (Foto: Humas)

Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Prof Dr Abdul Haris MAg (Foto: Humas)



MALANGTIMES - Setelah sukses mempertahankan akreditasi A dari BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi), Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim  atau UIN Maliki Malang tak lantas puas begitu saja. Sebaliknya, UIN Maliki  berupaya lagi meningkatkan kualitasnya.

Peningkatan kualitas ini ditujukan pada tata kelola, Tri Dharma Perguruan Tinggi, fasilitas, jurnal, percepatan guru besar, termasuk peningkatan kualitas dan mutu pendidikan.

Dalam peningkatan kualitas dan mutu pendidikan ini, UIN Maliki akan melakukan akreditasi prodi (program studi) dengan versi 4.0. Instrumen dalam akreditasi prodi 4.0 ini tidak lagi menggunakan standar. Kriterianya sudah disesuaikan dengan standar internasional. Dengan ini, maka lulusan UIN Malang nantinya bisa diakui secara internasional.

"Di instrumen akreditasi prodi 4.0 ini tidak lagi menggunakan standar,  tetapi menggunakan kriteria dan kedudukan," ujar Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg.

Dijelaskan Haris, ujung dari instrumen BAN-PT ini tidak lain untuk meningkatkan mutu kualitas layanan dan lulusan sarjana di perguruan tinggi. Sehingga persoalan input, output dan outcome-nya juga harus jelas. 

Prodi yang hendak mengajukan proses akreditasi harus menyesuaikan regulasi yang terbaru tersebut karena sudah disesuaikan dengan perkembangan zaman. "Instrumen ini saya kira terus disesuaikan dengan kebutuhan zaman," ucapnya.

Dalam upaya meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan di perguruan tinggi ini, Lembaga Penjaminan Mutu UIN Malang juga sempat mengundang asesor dan tim instrumen BAN-PT. Yakni  Prof Dr drh Bambang Sektiari L. DEA dan Drs Johan A.E. Noor MSc PhD, Kamis (11/4).
 

Kegiatan yang berlangsung di ruang Rapat Senat Gedung Rektorat lantai 4 UIN Maliki itu diikuti oleh kepala jurusan di PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) se-Jawa Timur.

Johan dalam paparan materinya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan lanjutan dari kegiatan penjaminan mutu sebelumnya. Selain itu, kegiatan ini bertujuan  memberikan informasi terbaru terkait dengan instrumen akreditasi prodi versi 4.0 dengan 9 kriteria. “Instrumen baru ini memang harus disosialisasikan. Pasalnya,  IAP 4.0 ini menggunakan 9 kriteria, bukan lagi standar mutu,” terangnya.

Sosialisasi ini, lanjut Johan,  dimaksudkan untuk meng-update beberapa hal terkait dengan instrumen yang diterbitkan BAN-PT. Sehingga semua PTKI yang hendak mengajukan proses akreditasi harus menyesuaikan dengan instrumen dan asesmen yang berlaku.

"Kriteria ini mulai berlaku 1 April 2019 ini dan sudah disesuaikan dengan standar internasional. Harapannya lulusan di perguruan tinggi ini tidak hanya diterima dikalangan lokal saja tapi juga bisa diakui secara internasional," ungkapnya.

Varian instrumen baru akreditasi perguruan tinggi ini disesuaikan dengan kebutuhan era saat ini. Sehingga dalam peraturan BAN-PT No 2 Tahun 2018 ini, diharapkan setiap perguruan tinggi bisa melakukan pengukuran terhadap mahasiswanya. Mulai dari aspek, input, proses, output dan outcome-nya memiliki kriteria yang jelas dan terukur. "Semua kriteria ini sebagai alat untuk mengukur keberhasilan bagi perguruan tinggi dalam proses akademiknya,” pungkasnya.

End of content

No more pages to load