Ubah Gulma Jadi Energi Ramah Lingkungan, Mahasiswa UB Raih Silver Medal di Malaysia

Apr 11, 2019 19:43
Tim EGI. (Foto istimewa)
Tim EGI. (Foto istimewa)

MALANGTIMES - Populasi tumbuhan kiambang (Salvinia molesta M.) di Danau Ranu Pani saat ini sangat melimpah. Dari hasil observasi pada tahun 2018, dinyatakan bahwa populasi kiambang di Danau Ranu Pani jauh lebih banyak dari tahun sebelumnya dan hampir seluruh permukaan danau tertutupi oleh gulma air.

Baca Juga : Dampak Covid-19, Beasiswa LPDP ke Luar Negeri Ditunda Tahun Depan

Kiambang sendiri merupakan tumbuhan air yang tumbuh di permukaan air dengan karakteristik laju biak yang sangat cepat dengan sifat adaptasi yang tinggi di berbagai kondisi lingkungan terutama pada air buangan kegiatan industri, limbah domestik, maupun limbah pertanian.

Hal ini tentunya menimbulkan berbagai macam permasalahan lingkungan berupa pencemaran air. Mengatasi hal ini, lima mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB) yang tergabung dalam tim Electric Green Innovation (EGI) mengubah kiambang tersebut menjadi hal yang bermanfaat.

Tim EGI yang terdiri atas Aditya Permana Putra, Aditya Aji Novtara, Arvi Wahyu Lestari, Bita Pitaloka, dan Alwan Afif Fadhillah mengubah kiambang menjadi energi listrik ramah lingkungan berbasis konservasi kawasan perairan Danau Ranu Pani Desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Pengembangan energi listrik tersebut menggunakan Teknologi pengembangan Dye-Sensitized Solar Cell (DSSC) berbahan gulma air kiambang. "Bagian dari kiambang yang dimanfaatkan berupa klorofil karena dapat mengonversikan energi matahari menjadi energi listrik," ujar Aditya Permana Putra.

Dijelaskan oleh Aditya, penambahan Cyanobacteria hasil eksplorasi di Danau Ranu Pani dalam komponen DSSC berpotensi menambah daya keluaran listrik karena bakteri ini mampu berfotosintesis serta mengandung klorofil a dan pigmen warna lainnya yang berpotensi dijadikan dye, dan toleran terhadap sinar UV.

Baca Juga : Belajar dari Rumah Lewat TVRI Mulai Hari Ini, Intip Jadwalnya Yuk!

Selain itu, bakteri ini mampu mengonversikan foton yang lebih tinggi secara efisien. Pengembangan DSSC dipilih karena merupakan sel surya dengan pemanfaatan bahan organik yang mudah ditemukan, harga relatif terjangkau, dan memiliki kestabilan kimia yang konstan.

"Pemilihan kedua bahan tersebut dikarenakan sangat berlimpah pada daerah tertentu, mudah dikembangkan, berkelanjutan, dan sebagai upaya pemberantasan gulma air di Danau Ranu Pani," terangnya.

Atas penelitian yang dibimbing oleh Restu Rizkyta Kusuma, S.P., M.P., M.Sc tersebut, Tim EGI berhasil meraih Silver Medal dalam kategori Invention dalam ajang International Student Affairs Invention, Innovation & Design Competition di Universiti Teknologi Mara (UiTM) Kedah Branch, Malaysia. Kelima mahasiswa tersebut bersaing dengan 175 tim dari berbagai negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam.

Topik
Berita Malang Populasi tumbuhan kiambang (Salvinia molesta M.) Electric Green Innovation (EGI) Dye Sensitized Solar Cell (DSSC) Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya(UB) Mahasiswa UB

Berita Lainnya

Berita

Terbaru