Gubernur Khofifah saat memimpin penguatan kepala sekolah (SMA, SMK, dan SLB) se-Jawa Timur.

Gubernur Khofifah saat memimpin penguatan kepala sekolah (SMA, SMK, dan SLB) se-Jawa Timur.


Editor


MALANGTIMES - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong para kepala sekolah SMA, SMK, dan SLB se-Jawa Timur untuk memiliki managerial skill and strong leadership dalam memimpin sekolah. Kemampuan tersebut sangat dibutuhkan guna mencetak SDM (sumber daya manusia) yang berkualitas sehingga mampu meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM) Jatim. 

“Kepala sekolah harus memiliki managerial skill and strong leadership yang bagus karena 
anda menyiapkan generasi penerus bangsa,” kata Gubernur Khofifah saat memimpin penguatan kepala sekolah (SMA, SMK, dan SLB) se-Jawa Timur tentang Nawa Bhakti Satya "Jatim Cerdas" di Gedung Islamic Center Surabaya, Kamis (11/4) siang. 

Gubernur Khofifah mengatakan, dengan managerial skill yang bagus, maka kepala sekolah dapat menata dan memimpin organisasi sekolah, baik guru, karyawan, dan murid-murid sekolah dengan baik. Kemudian leadership dibutuhkan untuk memberikan teladan, mengembangkan, serta memajukan sekolah yang dipimpinnya. 

“Seorang kepala sekolah harus berseiring antara kekuatan managerial skill dengan 
kemampuan leadership-nya. Dan ini harus terus diasah,” katanya sembari menambahkan, dengan memiliki keduanya akan mampu memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan dan percepatan IPM Jatim.

Menurut data BPS tentang IPM pada 2017, lanjut Gubernur Khofifah, IPM Jatim  masih berada pada angka 70,27 atau berada di bawah IPM nasional yang mencapai 70,81. Angka 70,27 tersebut bahkan merupakan yang terendah di antara provinsi lainnya di Pulau Jawa. Yakni DKI Jakarta dengan angka 80,06, Yogyakarta 78,89, Banten (71,42), Jabar (70,69), dan Jateng (70,52). 

“Jadi. IPM kita ini nomor lima belas dari IPM secara nasoinal. Tentu ini tidak cukup 
menggembirakan. Ini pekerjaan rumah yang harus kita intervensi bersama-sama” lanjutnya seraya mengimbuhkan, melalui pertemuan ini, diharapkan bisa menyambung pikiran, program, dan semangat bersama untuk meningkatkan kualitas IPM Jatim. 

Salah satu bentuk intervensi tersebut, ujar gubernur wanita pertama di Jatim ini adalah 
melakukan penyisiran terhadap masyarakat untuk meningkatkan kualitas pendidikannya. 
Contohnya, saat ini rata-rata lama sekolah (RLS) Jatim adalah 7,39 atau setara kelas 2 
SMP/tsanawiyah. Maka mereka bisa didorong supaya ikut kejar paket B, kemudian paket C. 

“Kami sudah berkoordinasi dengan para bupati dan wali kota karena tugas kejar paket 
adalah kewenangan kabupaten/kota. Tapi tentu kami tidak bisa berpikir seperti itu. Ini adalah tugas dan tanggung jawab bersama, kita harus membangun strong partnership untuk bisa meningkatkan kualitas SDM Jatim, supaya daya saing kita menjadi lebih baik,” tegasnya. 

Kemudian terkait SPP gratis, Gubernur Khofifah menjelaskan, untuk sekolah SMA/SMK 
negeri, pembayarannya gratis mulai Juli 2019. Sedangkan untuk SMA/SMK swasta, pemprov akan memberikan bantuan SPP. Untuk SMA swasta sebesar Rp. 1,4 juta/tahun da SMK sebesar Rp 1,6 juta/bulan.

“Kami  ingin ada semacam kontrak perjanjian pakta integritas bahwa bantuan SPP itu akan 
berjalan secara natural. Artinya, ketika ada bantuan SPP bagi SMA/SMK swasta di Jatim, mohon  SPP sesuai dengan SK gubernur yang lalu itu tetap menjadi referensi,” jelasnya sembari menambahkan, pakta integritas ini dibuat guna mencegah indikasi kemungkinan adanya sekolah yang akan menaikkan SPP. Sebab, ada diantara SMK non-teknik, jika ditotal SPP per tahunnya tidak mencapai Rp. 1 juta. 

Hadir dalam kesempatan ini, kepala sekolah SMA negeri se-jatim sebanyak 423 orang, 
kepala sekolah SMA swasta sebanyak 150 orang, kepala SMK negeri sebanyak 296 orang. 
Kemudian guru pendidikan khusus dan pendidikan layanan jhusus (PKLK) dengan total 175 orang, mulai TK, SD, SMP, dan SMA LB se-Jatim. Juga hadir kepala Dinas Pendidikan Jatim, para kepala OPD di lingkup Pemprov Jatim, serta wartawan dari berbagai media.

End of content

No more pages to load