Petugas saat mengevakuasi jenazah Sutrisno Wadi, korban bunuh diri dengan cara menceburkan diri kedalam sumur, di Kecamatan Turen. (Foto : PMI Kabupaten Malang for MalangTIMES)

Petugas saat mengevakuasi jenazah Sutrisno Wadi, korban bunuh diri dengan cara menceburkan diri kedalam sumur, di Kecamatan Turen. (Foto : PMI Kabupaten Malang for MalangTIMES)



MALANGTIMES - Kasus bunuh diri kembali terjadi di wilayah Kabupaten Malang. Setelah dalam sehari terjadi dua kasus bunuh diri di Kecamatan Pakisaji dan Tumpang yang mengakibatkan 3 orang tewas mengenaskan Selasa (9/4/2019), kali ini giliran Sutrisno Wadi, warga Jalan Taman Makam Pahlawan, Kelurahan/Kecamatan Turen, yang diduga kuat meninggal karena kasus serupa, Kamis (11/4/2019) pagi.

Dari informasi yang dihimpun MalangTIMES, pria yang berusia 54 tahun itu dikabarkan menghilang sejak Kamis pagi. Mengetahui jika putranya tidak ada di rumah, sekitar pukul 05.30 waktu setempat,  Sumarni (orang tua korban) bergegas mengabari ketua RT setempat.

Ketika itu, wanita yang kini berusia 68 tahun tersebut mengaku jika sebelum menghilang, anaknya sempat mengeluh jika dirinya memilih untuk mati. “Oalah mak koyok ngene aluwung mati (aduh mak kalau seperti ini, lebih baik saya mati),” kata Ketua RT  Sukarji saat menirukan ucapan terakhir korban yang diutarakan ke ibu kandungnya.

Mendapat laporan dari warganya, pria yang kini berusia 47 tahun itu seketika bergegas mencari keberadaan korban dengan dibantu masyarakat setempat untuk melakukan pencarian. Warga akhirnya menemukan tanda-tanda keberadaan korban. 

“Kami menemukan pakaian korban di sekitar sumur tua. Ketika dilihat ke dalam sumur, ternyata ada sesosok mayat yang diduga mayat korban,” terang Sukarji saat dimintai keterangan polisi.

Pristiwa ini akhirnya dilaporkan ke pihak kepolisian. Mendapat laporan, beberapa personel Polsek Turen, PMI (Palang Merah Indonesia), tim medis, serta perangkat desa setempat diterjunkan ke lokasi kejadian. Dengan dibantu warga, petugas gabungan akhirnya mengevakuasi jenazah Sutrisno dari dalam sumur.

 “Dari informasi yang saya dapat, diduga korban nekat bunuh diri karena memiliki riwayat penyakit menahun. Selain asma dan asam urat, semasa hidupnya korban juga mengidap penyakit komplikasi mulai dari diabetes, darah tinggi, hingga sakit paru-paru,” kata Camat Turen Mumuk Hadi Martono.

Dugaan korban meninggal karena bunuh diri tersebut dikuatkan dengan temuan polisi. Kanit Reskrim Polsek Turen Iptu Soleh Mas’udi menuturkan, berdasarkan hasil olah TKP dan keterangan petugas medis, tidak ditemukan adanya luka bekas penganiayaan ditubuh korban.

“Ketika dievakuasi, petugas medis hanya menemukan luka lecet di bagian siku tangan sebelah kanan yang diduga disebabkan  gesekan dengan dinding sumur. Bukan karena penganiayaan,” kata Soleh kepada MalangTIMES.

Soleh menambahkan, dari keterangan beberapa saksi dan pihak keluarga, semasa hidupnya korban berprofesi sebagai tukang becak di Kota Gresik. Lama bekerja di sana, beberapa tahun lalu Sutrisno akhirnya memutuskan untuk pulang kampung ke Malang lantaran mengidap sederet penyakit.

“Pihak keluarga menolak untuk dilakukan otopsi dan bersedia membuat surat pernyataan jika kematian korban murni karena bunuh diri,” ujar Soleh.

 

End of content

No more pages to load