Dita diapit para dosen yang mendampingi selama perlombaan. (Foto: Istimewa)

Dita diapit para dosen yang mendampingi selama perlombaan. (Foto: Istimewa)



MALANGTIMES - Indonesia adalah penghasil sagu terbesar di dunia, namun negara yang paling serius mengembangkan sagu justru Jepang. 

Indonesia sendiri memiliki luas areal sagu terbesar di dunia dengan luas sekitar 1.128 juta hektar.

Meski begitu, pemanfaatannya masih belum optimal, baru sekitar 11 persen dari total cadangan pati sagu Indonesia.

Padahal, sagu memiliki banyak sekali manfaat. Sagu dapat menjadi pangan alternatif.

Sagu (Metroxylon sagu) merupakan sumber karbohidrat layaknya beras. 

Satu porsi nasi seberat 100 gram setara dengan 40 gram tepung sagu.

Jika potensi sagu telah dapat dimanfaatkan dengan bijak sebagai pangan alternatif, maka Indonesia seharusnya tidak perlu mengimpor beras sampai dengan 861.601 ton.

Beragam manfaat sagu menjadikan mahasiswi program studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dita Fomara Tuasikal melakukan penelitian dengan judul “Multi Function Concept to Support Independent Village: Optimalisasi Potensi Sagu sebagai Upaya Mewujudkan Desa Mandiri Pangan dan Energi Berbasis Sociopreneurship”.

Berkat penelitiannya ini, Dita terpilih sebagai juara pertama Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) yang diselenggarakan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) tingkat Jawa Timur (Jatim), di Grand Whiz Trawas-Mojokerto (2/4).

Mahasiswa angkatan 2016 ini menyisihkan peserta lain dari lima puluh Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di bawah Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah VII Jawa Timur.

Dita mengusung konsep sosial ekonomi pembangunan, yakni Desa Mandiri Pangan dan Energi melalui sumber pangan dan energi alternatif. 

Dijelaskan oleh Dita, sagu memiliki manfaat lain selain sebagai pangan alternatif.

"Ampas ela yang merupakan limbah setelah panen sagu, mengandung ethanol 80 persen yang memenuhi syarat pembakaran sempurna," jelasnya.

Hal ini dapat dijadikan sebagai energi alternatif berupa bioethanol. 

Untuk diketahui, tempat penelitian Dita yakni di Desa Pelauw di Kecamatan Pulau Haruku Kabupaten Maluku Tengah.

 “Sayang, dengan potensi sagu yang melimpah, penduduk desa ini masih bergantung pada beras dan BBM dari kota Ambon. Padahal hampir di seisi Maluku tidak ada produksi beras sama sekali. Selain itu, sangat sering terjadi kelangkaan BBM sehingga mengharuskan ke pulau sebelah hanya untuk membeli minyak tanah,” paparnya.

Atas kemenangan ini, Dita akan mewakili Provinsi Jawa Timur di ajang Pilmapres di tingkat nasional dalam waktu dekat.

End of content

No more pages to load