Alissa Wahid saat berbicara dalam Dialog Kebangsaan di UMM. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

Alissa Wahid saat berbicara dalam Dialog Kebangsaan di UMM. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Pemerintah telah mencanangkan Indonesia Emas akan tercapai tahun 2045. Tahun 2028 hingga tahun 2032 adalah puncak perubahan demografi di Indonesia. Angka usia produktif akan sangat tinggi.

Hal ini dinyatakan oleh putri Presiden Indonesia ke-4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dalam gelaran Dialog Kebangsaan yang digelar di aula Gedung Kuliah Bersama IV lantai 9 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) belum lama ini.

Menurut Alissa, biasanya sebuah negara akan menjadi negara yang ekonominya berlipat ganda kalau mampu memanfaatkan ruang bonus demografi ini. "Tapi kalau tidak mampu memanfaatkannya, akan menjadi mimpi buruk demografi," tandasnya.

Menurut Alissa, mimpi buruk demografi ini terjadi apabila banyak terjadi konflik. Sedangkan konflik paling banyak dipicu oleh ideologi dan agama.

Mengapa demikian? Alissa mengatakan, manusia bisa bertindak melebihi kemanusiaannya karena tiga hal. Apa sajakah itu? Satu karena cinta, dua demi kemerdekaan, dan yang ketiga demi Tuhan atau ideologi.

"Demi Tuhan, manusia mampu melakukan hal-hal yang melebihi kemanusiaannya. Karena itu, justru Tuhan dan ideologi bisa jadi alat yang sangat gampang untuk memecah-belah manusia-manusia yang ada," terangnya dalam gelaran dialog yang dimoderatori putri bungsu Gus Dur, Inayah Wahid, tersebut.

Seharusnya, menurut Alissa, demi Tuhan, rakyat Indonesia justru menjaga Indonesia. Jangan biarkan orang lain yang mengatakan 'demi Tuhan. "Karena itu, kalau mau rusak Indonesia untuk kepentingan kelompok kita, jangan mau!" tegas koordinator nasional jaringan Gusdurian tersebut kepada para mahasiswa.

Untuk menjadikan Indonesia menjadi Indonesia Emas, para milenial harus menjadi pemimpin yang memiliki 5 keterampilan berpikir agar tidak digilas roda zaman. Apa sajakah 5 keterampilan berpikir atau thinking skill itu?

Pertama, milenial perlu memiliki keterampilan discipline thinking yang artinya milenial harus menguasai ilmu. "Pemimpin milenial harus terus mengasah keahliannya. Putuskan adik-adik mau menekuni apa dan dalami terus-menerus," terang Alissa.

Keterampilan berpikir kedua adalah synthesizing thinking. Dijelaskan Alissa bahwa di sini manusia mampu memadukan berbagai hal yang berbeda-beda menjadi sesuatu yang baru. Gadget adalah salah satu contoh hasil dari keterampilan berpikir ini. "Pemimpin milenial mampu melihat hal yang berbeda-beda dan menyulapnya menjadi sesuatu yang baru. Itu inovasi," jelasnya.

Keterampilan ketiga yakni creative thinking. Menurut Alissa, creative thinking adalah satu hal digunakan untuk menjadi banyak hal yang berbeda-beda. Para milenial harus menggali kreativitasnya.

Nah, keterampilan yang keempat dan yang menurut Alissa sangat penting adalah respecting thinking, yakni menghormati orang lain "Pemimpin milenial itu bisa memosisikan diri di tengah. Dia bisa mengendalikan dirinya untuk mengatakan bahwa, 'Kalau aku melakukan ini, akan ada orang-orang yang terluka karena itu aku menghormati mereka dan aku tidak melakukannya," papar Alissa.

Keterampilan terakhir adalah ethical thinking. Keterampilan yang satu ini adalah soal benar-salah, baik-buruk, dan patut dilakukan atau tidak.

Alissa kemudian memberikan contoh mengenai perempuan yang sekarang mulai dipotret sebagai warga kelas dua bahwa perempuan adalah milik suaminya. "Padahal ayat-ayat di dalam Alquran banyak sekali yang menunjukkan bahwa kita semua itu tidak dibedakan di hadapan Allah, kecuali ketakwaan kita," ucapnya.

Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki tidak dibedakan Allah, menurut Alissa, banyak. Namun, sekarang potretnya dikembalikan lagi seperti zaman jahiliyah bahwa perempuan adalah milik laki-laki.

"Kalau milik laki-laki, boleh diperlakukan macam apa saja, itu zaman jahiliyah sebelum Rasulullah. Justru diubah karena risalah kenabian yang membawa sistem yang baik dan berkeadilan. Ini adalah contoh ethical thinking, bagaimana bersikap etis," pungkasnya.

End of content

No more pages to load