Aunullah A'la Habib ketika menyampaikan materi dalam diskusi (Luqmanul Hakim/Malang Times)

Aunullah A'la Habib ketika menyampaikan materi dalam diskusi (Luqmanul Hakim/Malang Times)



MALANGTIMES - Fasilitas untuk para penyandang disabilitas hingga saat ini masih banyak yang kurang memadai. Termasuk masalah fikih dalam beribadah dan mendalami agama bagi para penyandang disabilitas.

Hal tersebutlah yang mendasari adanya penyusunan buku fikih Penguat Penyandang Disabilitas yang disusun Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU, Perhimpunan Pengembang Pesantren dan Masyarakat (P3M),  serta Pusat Studi Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya. Buku tersebut dibedah di gedung Rektorat Universitas Brawijaya (UB), Selasa (9/4).

Wahyu Widodo, penyelenggara diskusi bedah buku fikih tersebut, mengatakan terdapat empat masalah fikih yang dialami  para penyandang disabilitas. "Masalah fikih itu dibagi menjadi 4, yakni ubudiah (tata peribadatan), muamalah (tata pergaulan sosial), hukum dan waris, serta juga pernikahan dan keluarga" ujar Wahyu.

Dia mencontohkan permasalahan yang dibahas, mulai bagaimana hukum  pendampingan seorang tunanetra setelah mengambil wudu. Dalam hal ini, disebutkan pendamping dan penyandang disabilitas berlawanan jenis. Juga bagaimana hukum penggunaan seekor anjing untuk memandu ketika berjalan. "Dari contoh itu,  hukumnya dicari oleh para alim ulama sehingga akan memperkuat posisi disabilitas dalam masyarakat" ujarnya.

Dalam diskusi bedah buku tersebut, Pradana Boy ZFT -kepala Pusat Studi Islam dan Filsafat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)- memberikan penjelasan bahwa selama hal tersebut dilakukan, tujuannya hanya membantu.

"Ketika ada seorang tunanetra yang dibantu lawan jenisnya untuk berjalan setelah ambil wudu dan tidak ada orang lain selain dia yang ada di sana, maka wudu orang tersebut tidak akan hilang (batal)," ujar Pradana.

Dengan adanya buku tersebut, Wahyu berharap ke depannya para penyandang disabilitas akan mendapatkan fasilitas yang memudahkan mereka dalam beribadah dan mendalami agama. Selain itu, mereka akan mendapatkan tempat selayaknya orang normal.  

End of content

No more pages to load