Ilustrasi stunting (Ist)
Ilustrasi stunting (Ist)

MALANGTIMES - Tahun 2019, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang bertekad memberantas setengah kasus stunting. Sejak tahun lalu, melalui Wakil Bupati (Wabup) Malang Sanusi, kasus stunting dinyatakan sekitar 20 persen. Atau di akhir tahun 2018 lalu penderita stunting mencapai 25.587 bayi, seperti data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang.

Baca Juga : Kejahatan Merajalela di Tengah Pandemi Covid-19, Ini Kata Wali Kota Malang

Kondisi itu yang membuat Pemkab Malang berkomitmen untuk melakukan pengurangan kasus stunting. Yakni dengan melibatkan organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya, yaitu Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Malang.

Pasalnya, stunting bukan saja dikarenakan faktor gizi buruk yang dipicu kemiskinan akut saja. Tapi juga pola konsumsi makanan bagi bagi ibu hamil. Ranah inilah yang akan digarap oleh DKP Kabupaten Malang.

"Tentunya dalam konteks menguatkan program yang sudah berjalan di Dinas Kesehatan dan lainnya. Kita kini punya Si Gelang Anting untuk ikut serta menurunkan angka stunting di tahun ini," kata Nasri Abdul Wahid, kepala DKP Kabupaten Malang, Senin (08/09/2019) kepada MalangTIMES.

Si Gelang Anting atau Sistem Informasi Gerakan Penanggulangan Anak Stunting inilah yang nantinya akan menjadi alat pantau pola konsumsi makanan dan minuman sehat bagi pasangan usia subur, pra hamil, saat hamil sampai pasca-hamil sampai usia 2 tahun. 

Sehingga Si Gelang Anting bisa menjadi tembok pertama dalam mendeteksi stunting pada bayi. "Dengan Si Gelang Anting ini kita bisa membantu dinas terkait dalam persoalan stunting di Kabupaten Malang," ujar mantan kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang ini.

Teknis yang akan dilakukan DKP Kabupaten Malang dengan target penurunan 10 persen angka stunting di tahun 2019 ini adalah dengan melakukan pemetaan wilayah stunting terlebih dahulu. Dari hasil pemetaan tersebut, DKP menetapkan 10 desa yang menjadi lokus penanganan stunting.

Ke-10 desa tersebut adalah Desa Dilem di Kecamatan Kepanjen, Desa Pandanrejo di Kecamatan Wagir, Desa Sumbermanjing Kulon di Kecamatan Pagak, Desa Codo di Kecamatan Wajak, dan Desa Pandanrejo di Kecamatan Pagak. Serta Desa Mentaraman di Kecamatan Donomulyo, Desa Kedungrejo di Kecamatan Pakis, Desa Madiredo di Kecamatan Pujon, Desa Tamanharjo di Kecamatan Singosari, dan Desa Dalisodo di Kecamatan Wagir.

Baca Juga : THR Hanya untuk ASN Eselon III ke Bawah, Tidak Bagi Presiden, Menteri dan Kepala Daerah

Di wilayah tersebut nantinya DKP akan melakukan pemantauan sekaligus intervensi sejak 1.000 hari pertama kehidupan janin. Terkait asupan nutrisi untuk ibu hamil. Pasalnya, kata Nasri, saat ini dari hasil pendataan DKP Kabupaten Malang banyak makanan atau jajanan yang digandrungi masyarakat tapi kandungan gizinya sangat kurang.

“Kami khawatir ketika PUS (pasangan usia subur) terlalu banyak mengkonsumsi makanan ini maka potensi keturunannya untuk kekurangan gizi juga akan meningkat. Akhirnya bayi yang dilahirkan mengalami stunting,” urainya. 

Dalam mengantisipasi hal tersebut, DKP Kabupaten Malang pun mengembangkan aplikasi Sinta Harapan (Sistem Pantau 17 Komoditas Pangan). Serta aplikasi kecamanan pangan yang memuat data-data produsen pangan segar dan sehat. 

Disinggung terkait angka stunting di Kabupaten Malang yang begitu tinggi, Nasri menyampaikan, dimungkinkan karena masyarakat atau khususnya PUS kurang mengonsumsi sumber omega3 dan sumber protein nabati maupun hewani.

"Padahal kami berlimpah ikan serta kaya dengan hasil pertanian. Ini yang nantinya kita intervensi dalam mengurangi stunting," pungkas Nasri.