Ilustrasi (Istimewa).

Ilustrasi (Istimewa).



MALANGTIMES - Badan pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Malang sudah memotret tingkat kerawanan money politik jelang pemilihan umum (Pemilu). 

Hasilnya, tingkat kerawanan itu masih mencapai angka 20 persen, dan berpotensi terjadi di lima kecamatan Kota Malang.

Ketua Bawaslu Kota Malang M. Alim Mustofa menjelaskan, Bawaslu telah melakukan survei kepada 344 responden yang memiliki hak untuk memilih. 

Mereka dari lintas pendidikan, mulai dari lulusan SD hingga pasca sarjana.

"17 sampai 20 persen mereka menerima dan berpotensi terjadi," katanya pada wartawan.

Alim menyebutkan, potensi terjadinya money politic itu terjadi saat masa tahapan kampanye. 

Sementara saat masa tenang potensi terjadinya money politik tidak terlalu tinggi, dan akan kembali terjadi saat masa pemungutan suara.

"Mayoritas menjawab jika itu terjadi di rumah calon pemilih," imbuhnya.

Dalam tahapan Pemilu yang sudah di depan mata, menurutnya Bawaslu bersama jajaran pengaman sudah mulai melakukan patroli. 

Dia pun mengimbau agar masyarakat turut serta melakukan pengawasan dan membuat laporan.

Sama seperti yang dilakukan dalam Pilkada beberapa waktu lalu, menurutnya Bawaslu bersama jajaran pengaman akan melakukan pengawasan dan patroli sampai kampanye berakhir.

"Seperti sebelumnya, kami sudah siaga dengan tim gabungan untuk melakukan pemantauan di setiap titik rawan. Karena money politic masih sangat mungkin terjadi," jelasnya.

Bukan hanya money politic kerawanan lain seperti kekerasan fisik juga terus diantisipasi saat hari pemilihan mendatang. 

Tim gabungan dengan segala skenario disiapkan, termasuk pendekatan kepada seluruh elemen masyarakat agar tetap menjaga suasana kondusif selama pemilu. 

End of content

No more pages to load