Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

MALANGTIMES - Refrain

*dd nana

- ... sedang rindu, jangan kau kutuk aku-

1/

karena ku temukan kisah hidup itu 

ternyata serupa pita kaset yang diputar berulang-ulang.

Karena cuaca dan waktu yang mahir menipu mata  menyamarkan keserupaan. Jadi sepia atau rupa pelangi yang meremaja

Bukan berarti kita harus membenarkannya begitu saja, bukan?

...yang abadi adalah duka... ucap seorang lelaki yang sibuk memutar tombol gelombang, berulang-ulang.

2/

-Mari saling memunggungi dan menjauh. Biar tuhan saja yang tahu, dada siapakah yang lebih tabah membalut luka dan darah-(dqueen_).

maka, kita kembali ke yang paling tepi. Sunyi.

Sebelum suara memberi pengetahuan tentang air mata. Sabda.

Dan kita mencoba untuk menganggukkan kepala

Sebenar-benarnya percakapan adalah menahan sedu sedan di tenggorokan kita.

Punggung kita semakin menjauh, menuju tepi paling nyeri.

Biar Tuhan saja yang tahu, dada siapa yang paling tabah

Membungkus luka dan tetesan darah.

3/

-Yang tak tertangkap mata, disentuh doa- 

Begitulah ucap lelaki pengasah belati yang berulang-ulang mendesingkan mantra luka.

Mungkin, serupa itu juga rindu-rindu menghilang

Setelah kita tak menemukan bukit pertemuan yang kita gambar bersama. Disebuah ruang kecil tanpa cahaya, di kulit telanjang kita

Jemari doa telah mengasuh mereka, entah di mana

Sedang raga di tatah sepi dibaluri api

-agar kau faham arti sunyi. Agar kau serupa lelaki pertama-.

4/

Dilemparnya kata. Lelaki penekan tombol gelombang ingin bermain-main serupa tuhan. Mencipta sabda yang bisa disuarakan berulang-ulang.

Katanya, pengulangan itu begitu indah, tapi jernihkan sepasang matamu dulu. Karena awal yang lahir air mata. 

Setelahnya kau bisa menikmati sensasi terbang. Menuju yang kau angankan, menepi pada hasrat yang kau benamkan dalam-dalam di dalam dada.
Aku tercenung. 

Dengan tubuh bungkuk di sebuah lahan yang aku sebut taman. Mengais kata-kata yang pernah aku tanamkan. Di kursi kayu, kau menatapku, masih seperti saat kita kasmaran dulu.

-kau tidak menanam kata, sayang. Kau melemparkannya berulang-ulang. Malam sebentar lagi datang, masuklah. Telah aku buatkan secangkir kopi hitam-

Air mata turun begitu deras. Menghanyutkan segala sabda. Saat gelap memberikan keterangan.

-sudahi semuanya lelaki. Perempuan itu telah menghilang. Kau Adam yang tak ditakdirkan menemukan bukit pertemuan-

Di ruang tamu, secangkir kopi telah lama tandas. Entah direguk siapa.

5/

-jadilah pagar bukan tagar-
Kewajaran hidup itu merdeka untuk mengecupmu serta membisikkan kisah-kisah cinta tak surut waktu. Di setiap waktu.

Lantas ikhlas menjadi pagar untuk memelukmu dari segala sengat cuaca. Dan kau pun tenang memasak masakan kesukaanku setiap senja datang.

Hidup terlihat sederhana, bukan ? 

Tanpa perlu kita menuliskan tanda-tanda yang membuat kita melipat kulit kening. Karena taman kita membutuhkan jemari telanjang agar tidak diserang bala hama.

Tanpa perlu kita terdiam lama dan jemu karena telah menjadi jamu.

Kita hanya perlu menjadi pagar.

6/

Inilah cinta, kata diammu yang jauh. 

Mungkin ini cinta, kataku yang luruh. 

Cinta yang sunyi agar mereka tidak menghardik kita lagi.