Ilustrasi penggunaan medsos dalam meraup suara dalam Pemilu 2019 (Ist)

Ilustrasi penggunaan medsos dalam meraup suara dalam Pemilu 2019 (Ist)



MALANGTIMES - Sebuah penelitian yang dilansir The Conversation terkait popularitas partai politik serta upaya meraih suara masyarakat dalam Pemilu 2019 melalui penggunaan media sosial (medsos), ternyata menghasilkan sesuatu yang berbeda, saat melihatnya di permukaan.

Dimana, sepanjang tahun 2014 sampai saat ini, kegaduhan di medsos terkait pemilu sudah terbilang luar biasa. Khususnya terkait pilihan presiden (pilpres). 

Ternyata dari penelitian Ella S. Prihatini, Hadrian Geri, dan Muhammad Sigit, riuh dan banyaknya pengikut medsos tak banyak mempengaruhi perebutan suara. 

Popularitas di dunia maya belum secara konsisten menunjukkan kesuksesan pemilu. Dengan kata lain, Ella menyampaikan bahwa, secara keseluruhan, medsos di Indonesia belum digunakan secara signifikan oleh partai politik, politisi, maupun para pemilih sebagai kendaraan  politik.

"Oleh karena itu, keriuhan di medsos tidak dapat digunakan sebagai tolok ukur bagi keberhasilan sebuah parpol dalam mempengaruhi masalah kampanye tertentu dan mendulang suara dalam pemilihan," ujarnya seperti dilansir dalam mata-mata politik.com.

The Conversation dalam penelitiannya juga mengungkap, bahwa medsos yang dipergunakan parpol dalam upaya mendongkrak popularitas dan menjaring pemilih, didominasi 4 kanal medsos, yaitu Facebook, Twitter, Instagram, dan YouTube. Dengan rata-rata, penggunaan Facebook selama empat tahun, Twitter selama lima tahun, dan Instagram selama dua tahun.

Terdapat 16 parpol yang memiliki akun medsos dan didaftarkan ke KPU dalam Pemilu 2019. Dimana, Twitter merupakan medsos yang banyak dipergunakan parpol. Sedangkan parpol tertua dalam mempergunakan medsos FB adalah PDI-Perjuangan. Yakni, bergabung dengan FB sejak tahun 2008. Disusul PAN yang telah bersama FB delapan tahun dan PKS selama 7 tahun.

Tapi, kata Ella, walau terhitung lama ketiga parpol tersebut bermain FB. Secara jumlah pengikutnya ternyata masih kalah jauh dengan partai terbilang baru, seperti Gerindra dan PSI. Data dari penelitian sampai Desember 2018 lalu, jumlah pengikut akun FB PDI-P (sekitar 1,5 juta), PAN (187.000) dan PKS (615.000). Sedangkan Gerindra memiliki 3,6 juta pengikut dan PSI telah mengantongi pengikut  sekitar 2,9 juta.

Gerindra, telah memposisikan dirinya di dunia maya sebagai parpol paling populer di semua kanal medsos, kecuali di YouTube.

Lantas, adakah korelasi antara partai-partai yang memiliki pengikut medsos yang besar dan jumlah kursi di parlemen?

Laporan tiga peneliti berdasarkan raihan kursi di parlemen dalam Pemilu 2014 melalui paket corrplot dengan perangkat lunak RStudio untuk memvisualisasikan matriks korelasi antara jumlah kursi masing-masing partai di parlemen dan usia akun medsos. Menghasilkan, jumlah kursi yang diperoleh parpol dalam Pemilu 2014 menunjukkan hubungan yang kuat dan positif (0,67) dengan usia akun Facebook partai. Semakin lama sebuah partai memiliki akun Facebook, semakin tinggi kemungkinan partai tersebut memiliki lebih banyak kursi di parlemen. Tapi, partai yang berusia lebih tua kurang populer di Facebook dan YouTube, dibandingkan dengan partai yang lebih muda.

Sedangkan pola popularitas partai politik di internet bervariasi tergantung pada jenis medsos. Facebook tampaknya memiliki kecepatan yang lebih lambat dalam mendapatkan minat atau dukungan publik, dibandingkan dengan kanal lainnya.

Dari penelitian tersebut, sebenarnya medsos mampu menjadi ruang dalam menjaring pemilih dalam pemilu. Seperti di Amerika Serikat dan Inggris, dimana parpol menggunakan medsos untuk meningkatkan pemasaran politik digital mereka selama masa pemilihan. Tapi, dari hasil tersebut terlihat bahwa parpol Indonesia mengeksplorasi penggunaan media digital sebatas menyebarkan informasi. Belum menggunakan internet sebagai media kampanye mereka untuk mendapatkan dukungan publik. 

End of content

No more pages to load