Ladang cabai di Desa Sumberejo yang rusak akibat curah hujan yang tinggi sejak Januari 2019

Ladang cabai di Desa Sumberejo yang rusak akibat curah hujan yang tinggi sejak Januari 2019



MALANGTIMES - Tingginya intensitas curah hujan yang terjadi di Kota Batu sejak Januari hingga awal April 2019 ini membuat para petani cabai harus menjerit. Pasalnya, mereka harus bersusah payah untuk memberikan perhatian ekstra pada cabai yang ditanamnya.

Hal tersebut seperti yang dirasakan Armanto salah satu petani cabai di Desa Sumberejo, Kecamatan Batu, yang harus pasrah dengan hasil panen cabainya tak sebagus di musim kemarau. Sebab, banyak cabai yang busuk dan terserang penyakit ketika hujan.

"Cabainya rusak, banyak yang busuk kena penyakit kalau hujan terus seperti ini. Mulai daunnya bule (kekuningan), layu, sampai terkena cacar," keluh Armanto saat ditemui MalangTIMES Rabu (3/4/2019).

Lanjutnya, rusaknya cabai tersebut dikatakannya juga menyebabkan harga cabai yang anjlok sejak bulan Januari lalu. Tak tanggung- tanggung, anjloknya harga cabai tersebut hingga berada di angka Rp 6000 per kilogramnya.

Bahkan ia mengatakan untuk sekali panen saat ini hanya bisa mendapatkan sekitar 50 kilogram cabai untuk panen terbanyak sejak Januari lalu. Sedangkan normalnya bisa mendapatkan hasil panen sekitar 90 kilogram cabai saat musim kemarau. 
"Sekali panen kalau rusak gini hanya 50 kilogram panen terbanyaknya, biasanya 90 kilogram kalau pas kemarau," tegasnya.

Sementara itu, untuk pemeliharaan cabai sendiri dikatakan saat musim hujan seperti ini harus dilakukan ekstra. Pasalnya, obat yang disemprotkan untuk menghalau hama penyakit terus luntur saat terkena hujan. Sehingga juga butuh dana ekstra untuk memelihara cabai rawit.

"Perlu ekstra perawatannya, seminggu sekali penyemprotannya, dananya juga harus ekstra, hasilnya kita pak pok saja," ujar Armanto.

Dengan kondisi tersebut, hasil panen tidak sebanding dengan biaya pemeliharaan. Sebab, dari hasil panen yang dilakukan setiap minggunya, ia hanya bisa menutup biaya perawatan dan pembibitan ulang untuk masa tanam cabai selanjutnya. Bahkan untuk masa panen juga dikatakannya ikut berkurang yang harusnya bisa dipanen selama lima bulan, namun ketika hujan hanya bisa dipanen sekitar 4 bulan saja.

Meskipun demikian, ia juga mengatakan bahwa mulai bulan Februari lalu, harga jual cabai mulai merangkak naik. Dikatakannya di bulan Februari di angka Rp 9000 perkilogramnya dan bulan Maret hingga saat ini sudah di angka Rp 12 ribu perkilogramnya.

"Sempat turun sampai Rp 6000, tapi Februari mulai naik lagi harganya Rp 9000, kalau sekarang sudah Rp 12.000 perkilonya," pungkasnya.

End of content

No more pages to load