Desain-desain Tren Forecasting 2019-2020 Singularity. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

Desain-desain Tren Forecasting 2019-2020 Singularity. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Dalam industri fashion, seorang desainer harus bisa menjual produknya. Agar bisa menjual produknya, desainer harus bisa membaca trennya. 

Tiap tahun, tren fashion berubah. Tentunya hal ini disebabkan oleh kondisi yang ada di masyarakat, mulai sosial politik, budaya, hingga ekonomi.

Event Dekranasda Fair 2019 yang digelar Dinas Perindustrian Kota Malang menampilkan prediksi tren fashion 2019-2020, Selasa (2/4) di Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang (UM).

Indonesian Fashion Chamber (IFC) bekerja sama dengan Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) mengeluarkan tren forecasting yang bisa menjadi acuan desainer dalam membuat sebuah koleksi. Tren itu disebut singularity.

Singularity sendiri adalah sebutan suatu masa di mana orang sudah tidak percaya pada kecerdasannya sendiri, melainkan percaya dengan kecerdasan artifisial.

Tren forecasting 2019-2020 singularity terbagi atas empat tema. Pertama, exuberant atau keceriaan dan optimisme. Menurut Chairman Indonesian Fashion Chamber (IFC) Chapter Malang Agus Sunandar, exuberant memiliki arti sangat hidup, senang dan bersemangat, penuh energi, dan antusiasme.

"Exuberant merupakan akulturasi budaya Barat Timur. Karakter desainnya itu santai, woles, nerdy, tapi tetap stylish, kemudian lucu, digital addict karena banyak menggunakan print. Kemudian visualisasinya berupa desain grafis, ada street art, karakter kartun dan komik yang digunakan," paparnya.

Tema kedua yakni neo medieval atau romantisme abad pertengahan.  Agus mengatakan, tema abad pertengahan menjadi pesona di tengah ketidakpastian zaman (distopian) karena narasi romantisme sejarah untuk mengimbangi situasi politik dan budaya saat ini.

"Karakter desain tema lama namun dikemas futuristik dan berteknologi untuk menghidupkan imajinasi historis futuristik.  Tegas, hi-tech, dan material yang digunakan adalah solid," terang dosen Tata Busana Universitas Negeri Malang (UM) tersebut.

Tema selanjutnya yakni svarga atau keindahan spiritual. Svarga yang diambil dari bahasa Sansekerta identik dengan surga. Svarga dipakai karena faktor spiritual.

"Karakter desainnya berbasis kriya yang bernilai tinggi, upskill (kriya yang di atasnya pengrajin). Svarga merupakan yang paling cocok dengan Indonesia karena kekayaan budaya Indonesia. Ia menggunakan bahan-bahan tradisional Indonesia yang bagus dan dipadupadankan menjadi sesuatu yang bagus. Jadi, unity in diversity atau Bhinneka Tunggal Ika," ungkap  pria kelahiran Madura ini.

Tema keempat yakni cortex atau paradoks kecerdasan. Dijelaskan Agus, kelompok cortex tidak mau terpengaruh dengan singularity, melainkan berpikir futuristik atau jauh ke depan.

"Material dan tekniknya hi technology, iusi optik, pemanfaatan media dan bahan alternatif hasil riset, karakter desainnya simple dan lugas, menggunakan bahan-bahan transparan," pungkasnya.

 

End of content

No more pages to load