Plt Kepala BPBD Kota Malang Handi Priyanto (kiri) melakukan monitoring potensi bencana di kantor Pusdalops PB Kota Malang. (Foto: Dokumen MalangTIMES)

Plt Kepala BPBD Kota Malang Handi Priyanto (kiri) melakukan monitoring potensi bencana di kantor Pusdalops PB Kota Malang. (Foto: Dokumen MalangTIMES)



MALANGTIMES - Kendati hujan mulai jarang turun, tetapi bencana hidrometeorologi tetap dominan di Kota Malang. Hingga akhir Maret 2019, terdapat 18 kejadian bencana dengan total kerugian Rp 580 juta di Kota Pendidikan itu. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang mencatat sepanjang Maret terjadi 3 kali tanah longsor, 2 kali banjir, 8 kali kejadian kebakaran, 4 kejadian pohon tumbang, dan 1 kejadian lainnya. Akibat bencana-bencana tersebut, sebanyak 17 rumah penduduk dan 3 prasarana drainase mengalami kerusakan.

Plt Kepala BPBD Kota Malang Handi Priyanto mengungkapkan bahwa intensitas bencana yang terjadi menurun signifikan dibanding periode Februari 2019 lalu. "Analisis yang dilakukan Pusdalops PB (Pusat Pengendalian dan Operasi Penanggulangan Bencana) menyebut kerugian akibat bencana pada Maret mencapai Rp 580 juta lebih," sebutnya. 

Handi menyatakan, bencana yang terjadi mengalami penurunan sekitar 18 persen jika dikomparasi dengan jumlah kejadian pada periode triwulan I 2018. "Kalau triwulan I tahun ini total tercatat 59 kali kejadian bencana. Sedangkan 2018 lalu di kurun waktu yang sama ada 71 kejadian. Pada bulan-bulan tersebut (2018) lebih banyak didominasi tanah longsor, pohon tumbang, dan kebakaran," urainya. 

Meski secara kuantitas jumlah kejadian berkurang, nilai kerugian mengalami kenaikan. Jika pada 2018 lalu kerugian mencapai Rp 4,1 miliar, dan pada 2019 ini terakumulasi Rp 7,47 miliar. Yakni pada Januari 2019 total kerugian Rp 190 juta akibat 7 kejadian tanah longsor, 1 kali kebakaran, 8 kali angin kencang,  dan 3 pohon tumbang. 

Sementara pada Februari 2019 yang merupakan puncak musim hujan, tercatat ada 22 kejadian bencana. Rinciannya yakni 13 kejadian tanah longsor, 2 kali banjir, 1 kali kebakaran, 3 kali angin kencang, 2 kejadian pohon tumbang dan guncangan akibat gempa 1 kali. 

Pada bulan tersebut juga terjadi satu kali angin kencang yang cukup parah. Sebab mengakibatkan pohon tumbang di 24 titik. "Juga kejadian terbakarnya gardu listrik milik RS Syaiful Anwar yang bernilai miliaran turut menyumbang jumlah kerugian yang menyentuh angka Rp 6,7 miliar," tuturnya. 

Tak hanya kerugian material, kejadian bencana juga menimbulkan korban luka hingga korban jiwa. Pada triwulan pertama 2019 ini, bencana menyebabkan 1 korban tewas, 6 korban luka-luka dan 12 jiwa mengungsi. "Rata-rata korban mengungsi akibat kebakaran rumah. Kalau korban luka, paling banyak akibat tertimpa pohon tumbang saat angin kencang bulan lalu," terangnya. 

Handi menekankan agar warga Kota Malang kini harus semakin peduli dengan potensi bencana. Selain itu, masih adanya potensi bencana meteorologi di akhir musim penghujan ini membuat BPBD kian meningkatkan kesiapsiagaan dan upaya pencegahan. Misalnya dengan pemantauan dan monitoring kawasan yang berpotensi bencana.

Pihaknya juga terus melakukan sosialisasi dan anjuran ke berbagai sektor. "Tak ada yang bisa memprediksi bencana kapan terjadi, tetapi pencegahan bisa dilakukan untuk mengurangi potensi dan kerugian yang diderita. Tanggung jawab ini tidak mutlak berada di BPBD saja sebagai unsur pemerintah, tetapi juga di tangan masyarakat hingga dunia usaha," pungkasnya. 

End of content

No more pages to load