Rumah warga di kawasan Jalan Letjend S Parman Kota Malang yang terendam banjir akibat hujan dengan intensitas tinggi. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Rumah warga di kawasan Jalan Letjend S Parman Kota Malang yang terendam banjir akibat hujan dengan intensitas tinggi. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Banjir dan genangan air di Kota Malang terus menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Malang. Karena dalam beberapa kesempatan terakhir, banjir dan genangan kembali terjadi di beberapa titik.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang sebelumnya juga sudah memetakan zona merah banjir di Kota Pendidikan ini. Diantaranya adalah Jalan Galunggung, S Parman, Jalan Borobudur, Jalan Klampok Kasri, Jalan Bukit Barisan, Jalan Dieng, kawasan pemukiman di Kelurahan Bareng, Jalan Panji Suroso, Kawasan Sawojajar, Kawasan Madyopuro, Perempatan ITN, Kawasan Bandulan, Jalan Industri Barat, Taman Kalisari, Pasar Blimbing dan Tanjungrejo.

"Zona merah banjir itu maksudnya daerah yang tingkat kerawanan banjirnya tinggi," terang Sekretaris BPBD Kota Malang Tri Oki Rudianto pada wartawan belum lama ini.

Dengan sederet permasalahan yang menyebabkan banjir, menurutnya pemerintah saat ini terus berupaya melakukan berbagai upaya agar dapat mengatasi dengan langkah yang lebih cepat. Mulai dari rencana penambahan biopori hingga mengkaji embung (kolam tampungan sementara).

Dia menjelaskan, jumlah biopori di Kota Malang akan terus ditambah. Karena biopori sangat mampu meningkatkan daya serap air dan meminimalisir terjadinya genangan. Saat ini, upaya penambahan biopori itu pun terus dikaji oleh BPBD.

Upaya lain yang bisa dilakukan menurutnya adalah pembangunan embung atau kolam tampungan sementara. Namun untuk membuat embung memang dibutuhkan anggaran yang tak sedikit, dan harus ada langkah pembebasan lahan.

"Untuk embung akan kami kaji lebih jauh lagi. Karena memang itu kami nilai sebagai cara yang tepat untuk mengatasi banjir yang ada," urainya. 

End of content

No more pages to load