Dukut Imam W. Penulis Buku sejarah Malang Tempoe Doeloe saat menjelaskan sejarah Kota Malang (Luqmanul Hakim/Malang Times)

Dukut Imam W. Penulis Buku sejarah Malang Tempoe Doeloe saat menjelaskan sejarah Kota Malang (Luqmanul Hakim/Malang Times)



MALANGTIMES - Berbicara wisata di Kota Malang memang tak pernah ada habisnya. Saat ini ada banyak destinasi wisata yang bisa dikunjungi oleh para wisatawan yang berkunjung ke Kota Malang. Salah satunya wisata Heritage yang sudah banyak di Kota Malang. Salah satunya di Kayu Tangan.

Kawasan Heritage Kayu Tangan tersebut dikupas dalam kajian "Kesejarahan Kajoetangan dan Taloen" yang digelar di Museum MPU Purwa pada Sabtu (29/3/2019). Kajian sejarah yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang tersebut dihadiri oleh Budayawan, Sejarawan, Komunitas dan Mahasiswa serta masyarakat Kota Malang.

Kegiatan ini digelar karena sejalan dengan wacana Pemkot Malang yang ingin menjadikan wilayah Kayu Tangan sebagai destinasi wisata dan juga membentuk ikon baru untuk Kota Malang.

"Kita mengkaji tentang kayu tangan, karena sejalan dengan wacana Pemkot Malang yang ingin menetapkan wilayah tersebut sebagai kawasan Heritage. Pemkot juga sudah menyusun bagaimana pengembangan Kayu tangan ini bisa menjadi kampung Heritage yang mewakili cagar budaya Kota Malang" papar Agung H. buana Kasi Promosi Pariwisata Disbudpar Malang sekaligus sekertaria TACB.

Ia menuturkan Kayutangan tersebut akan dijadikan destinasi wisata sekaligus ikon Kota Malang seperti yang ada di Yogyakarta dengan Malioboro dan juga di Bandung dengan Braga yang bisa dimanfaatkan sebagai sektor pariwisata.

"Kami ingin nantinya warga Malang bangga dengan Kayu tangan seperti daerah lain yang bangga dengan ikonnya. Kami tidak ingin Malang kehilangan jati dirinya," tegas Agung.

Sementara itu, dalam diskusi tersebut, diisi oleh pemateri yang sangat memumpuni tentang kesejarahan, khusunya sejarah kota malang. Di antaranya, Dwi Cahyono dengan menjelaskan dari sisi arkeolognya, Budi Fathoni yang menjelaskan dari sisi arsitekturnya, Lintang Kertoamiprodjoe yang menjelaskan dari sisi bagaimana para milenial menangkap kayutangan, Akbar yang menjelaskan pandangannya dari sisi travelernya.

Tak hanya itu, kegiatan tersebut juga dihadiri langsung oleh Dukut Imam W. Penulis buku Malang Tempoe Doeloe yang menjelaskan sejarah Kayutangan secara global.

Sementara itu, Budi Fathoni sebagai akademisi Arsitektur dari Institut Teknologi Nasional (ITN)  Malang mengatakan bahwa Kayu  Tangan memang sudah pantas untuk dijadikan sebagai kawasan Heritage. Dikatakannya bahwa di Kayu Tangan masih banyak bangunan kuno berupa rumah yang masih terawat. "Masih banyak bangunan kuno di Kayutangan itu, sudah pantas kalau dijadikan kawasan Heritage," ujar Budi.

Sebagai penulis Sejarah Kota Malang dan Kota lainnya yang ada di Jawa Timur, Dukut berharap agar kalangan muda mudi saat ini lebih cinta lagi terhadap cagar budaya dan kearifan lokal yang ada di kota Malang. "Identitas Kota Malang itu bahasa Walikan, tapi juga kita harus melestarikan kearifan lokal adat istiadat yang ada di Kota Malang," pungkas Budi.

End of content

No more pages to load